Laman

LIVE IS AN ADVENTURE

LIVE IS AN ADVENTURE

I think by traveling you can better appreciate yourself and the different cultures of the world... Enjoy life all around the world. To share with many people with different way of living. To love. To dance with the birds and sing with the wind....

Travelling brings color to my life. I'm travelling for the joy...
"...there is a difference between knowing the path and walking the path" - Morpheus

I am not good at writing but I want to share the adventure in my journey, but I have a lot of photo trips. Let the pictures are going to tell you about this trip ;)

Not only for the destinations, but it's about the journeys...
when you are traveling the time should be yours.

Some in my blog is using Indonesian, If you do not understand Indonesian you can use "Google Translate" at the top left of this blog. I hope this blog can be useful ...

DILARANG MENGAMBIL/COPY PHOTO-PHOTO DALAM BLOG INI TANPA IJIN!

GOOGLE Translate

Minggu, 14 Oktober 2018

Matterhorn Journey


Reflection Matterhorn di permukaan air Riffelsee

Hari itu di awal bulan September 2018, saya berencana untuk hiking di salah satu tempat yang menjadi destinasi yang paling terkenal di Switzerland dengan keindahan puncak gunung yang paling ikonik dan spektakuler di Suiss yaitu: Matterhorn berlokasi persis di perbatasan Suiss dan Italia. Saking kondangnya, bentuk puncaknya menginspirasi produk coklat asal Suiss yang sudah mendunia, Toblerone! Tempat terdekat untuk mencapai Matterhorn adalah dari desa Zermatt, desa cantik yang berada di kaki Matterhorn.

Kota kecil Zermatt dapat dicapai dengan menggunakan kereta api. Jangan lupa, Zermatt adalah kota kecil yang melarang masuk kendaraan bermotor berbahan bakar bensin/solar. Jika Anda mengendarai kendaraan pribadi, maka Anda harus memarkirkan kendaraan di desa lain, Täsch yang merupakan kota perhentian terakhir sebelum memasuki kota Zermatt, dari sana Anda harus melanjutkan dengan kereta api.




Tiba di kota kecil Täsch

Kami bermalam dan memarkirkan mobil di Campsite Alphubel di kota Täsch, yang berada dekat dengan stasiun kereta api Matterhorn Terminal Täsch dan hanya berjalan kaki menuju ke stasiun. Hari sudah mulai sore dan kami langsung mencari tourist informastion yang berada dekat di stasiun kereta api. Setelah mendapatkan informasi yang kami butuhkan buat petualangan besok pagi, tidak lupa kami juga langsung membeli tiket kereta api menuju Zermatt buat besok pagi (Return Tickets) dengan harga CHF16.40 untuk mencegah antrian dipagi hari.

Saya sempat putar-putar kota sebentar dan kemudian mampir di toko Scoop (supermarket) untuk berbelanja perbekalan. Menyiapkan peralatan hiking buat besok pagi dan tidak lupa membawa bekal piknik.

Tak sabar menunggu pagi hari, dan Eng...ing ...eng... Jam 7 pagi petualangan dimulai! tapi ternyata dimulai dengan drama ugh... tiket kereta Zermatt yang saya beli kemarin menghilang! akhirnya beli lagi deh daripada kelamaan cari dan kereta sudah siap untuk berangkat.



Gornergrat Bahn saat melintas di kota Täsch



Kereta api berangkat tepat waktu, perjalanan menuju Zermatt dimulai. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan pegunungan, dan keindahan dataran tinggi yang selalu saja dihiasi barisan pohon pinus dan juga padang rumput dengan binatang ternak seperti sapi-sapi dan domba yang asik makan rumput.... sayup-sayup lonceng sapi memanggil bersahutan kloneng... kloneng... khas sekali suaranya lonceng itu dan rumah-rumah pedesaan yang selalu dipercantik hiasan tanaman bunga warna-warni dalam pot bunga di teras ataupun balkon setiap rumahnya. Indah sekali!


Zermatt kota kecil bebas kendaraan bermotor.

Setelah sekitar 20 menit berkereta, akhirnya saya menginjakkan kaki di Zermatt. Mau tau rasanya? rasanya hati kayak ada kembang api dan pengen loncat-loncat. Bayangin aja, sebuah desa kecil yang dikelilingi puncak gunung-gunung salju, barisan rumah-rumah kayu khas Alpin dengan bunga-bunga yang bergantungan, mengisi jalan-jalan di Zermatt. Sebagian besar digunakan sebagai, toko, hotel, cafe-cafe dan restaurant ala eropa ataupun apartemen liburan.

Zermatt terletak di Kanton Valais, kota kecil nan menawan ini yang berada di bagian dari barisan pegunungan Alpen yang ada di district Visp, Switzerland Selatan berada di ketinggian 1.600 mdpl. Sebagian besar penduduk Zermatt berbahasa Jerman. Iya, Zermatt merupakan salah satu tujuan yang sangat populer di Suiss, walaupun berlokasi lumayan jauh dari kota-kota utama seperti Zurich, Bern, atau Jenewa.

Salah satu yang paling unik dari kota kecil Zermatt adanya kebijakan pemerintah kota setempat yang tidak mengijinkan satu pun kendaraan berbahan bakar minyak bumi (bensin, solar dkk) beroperasi di semua jalan yang ada di kota ini. Semua kendaraan penumpang, angkut atau pun kendaraan berat semisal traktor, truck molen dan lain-lain harus menggunakan energi listrik ada juga oleh kuda atau keledai. Kota kecil di lereng pegunungan Alpen Suiss ini memang sejak tahun 1947 sudah bebas kendaraan bermotor.

Alasannya: karena kepedulian penduduknya yang tinggi terhadap lingkungan. Dimana agar tidak mengganggu ekosistem gunung salju. Bayangkan bila kendaraan berbahan bakar fosil dengan asapnya mengotori udara dan membuat salju-salju abadi di pegunungan Alpen ini meleleh. Selain itu, polusi udara dari mobil ditakutkan akan membuat kota Zermatt yang terletak di lereng pegunungan rawan longsoran salju dari puncak yang mengelilinginya.




Zermatt diantara pegunungan


Tidak mau membuang waktu, saya langsung menuju Gornergrat train station terletak tepat di seberang stasiun kereta Zermatt. Gruetzi! Seorang petugas wanita paruh baya menyapa dengan ramah dan menanyakan jumlah tiket dan rute pemberhentian yang akan dipilih... setelah tahu bahwa saya tidak hanya ingin menikmati dengan memandang Matterhorn saja, tapi juga hiking, buru-buru dia mengecek beberapa layar monitor, kemudian menyarankan saya untuk membeli tiket ke puncak tertinggi yaitu stasiun Gornergrat dan memulai hiking dari stasiun Rotenboden.

Memang ada berbagai pilihan jalur hiking untuk menikmati pesona keindahan Matterhorn: bisa dimulai dari Gornergrat, atau dari pemberhentian kereta lainnya di sepanjang jalur pendakian. 




Peta jalur trekking


Pilihan rute trekking yang saya ambil yaitu: Rotenboden ke Riffelalp 4.3 km. 

Dilihat dari peta, saya mengambil jalur #22 Riffelalp, yang dimulai dari stasiun Rotenboden (satu pemberhentian di bawah Gornergrat) lanjut dengan berjalan kaki singkat ke danau Riffelsee, setelah itu lanjut melewati danau, turun dan sekitar  Riffelberg, kemudian mengarah ke Riffelalp ikuti terus petunjuk jalan yang mengarah stasiun pemberhentian di bawah Riffelberg. Dimana rute perjalanan sedikit lebih menantang: medan yang curam, tetapi masih bisa dilakukan, saya butuh sekitar 3 jam lebih dengan kecepatan normal. Kemudian turun dan mengarah ke staiun Riffelalp, di mana saya dapat naik kereta kembali ke Zermatt.



Betah banget duduk disini sambil menikmati pemandangan yang spektakuler: Matterhorn


Tickets for hikers 

Tiket pulang-pergi ke atas puncak Gornergrat berharga CHF 98/harga penuh untuk dewasa di bulan September. Dan harga berubah, pada musim panas lebih mahal tentunya, dari musim semi, musim gugur, dan musim dingin harga sedikit lebih murah. Lihat harga saat ini. Kita juga bisa membeli tiket by online, tetapi jika menggunakan kartu diskon kita harus membelinya secara langsung.

Untuk para pendaki yang berencana melewati beberapa stasiun kereta, tidak perlu membayar penuh untuk perjalanan kembali di kereta Gornergrat. Kita dapat membeli tiket satu arah ke titik awal keberangkatan, kemudian membeli tiket satu arah lainnya saat turun. Setiap stasiun kereta api di sepanjang jalan memiliki kantor tiket. Ini memberi fleksibilitas jika berubah pikiran kita jadi hiking atau memperpanjang rute perjalanan tidak perlu kawatir.

Yes, akhirnya saya membeli tiket ke Gornergrat - one way seharga CHF49, dan kembali hingga di stasiun Rotenboden  dan dari  stasiun Riffelberg menuju Zermatt dengan biaya CHF34.





Menikmati perjalanan Gornergrat Bahn

Tidak mau membuang waktu, saya langsung naik kereta Gornergrat Bahn, itu berarti naik kereta gunung cogwheel, dan rasakan sensasi kemiringannya.... hmm berapa yah? salut deh sama orang-orang Suiss! sekali lagi mereka memang menata infrastruktur pariwisatanya sangat hebat. Saat menaiki kereta, saran saya: ambil posisi duduk di sisi kanan kereta dan dengan sudut pandang ke arah Gornergrat yang memberikan pemandangan Matterhorn dan pemandangan gletser yang indah saat cuaca cerah berlangit biru. Kereta perlahan-lahan meluncur ke atas gunung, dengan waktu  sekitar 30 menit untuk mencapai puncak.

Dari Zermatt kita akan melalui 4 titik pemberhentian yaitu Findelbach, Riffelalp, Riffelberg, dan Rotenboden sebelum sampai di pemberhentian terakhir Gornergrat.

Perjalanan menuju Gornergrat pun tak kalah fantastis, sepanjang perjalanan kami sudah bisa melihat jajaran pegunungan Alpen yang begitu menakjubkan, saya sendiri gak hafal namanya apa aja, hehehehe. O iya, puncak Gornergrat bisa dikunjungi sepanjang tahun oleh para wisatawan. Dengan menumpang kereta api Gornegrat Bahn, yang membawa penumpangnya menanjak mendekati Matterhorn Panorama dan tau dong! sepanjang perjalanan kereta api ini sangat indah dan mengesankan.




Barisan puncak di pegununungan Alpen


Gornergrat Viewpoint

Kereta perlahan-lahan meluncur ke atas gunung. Ketika pepohonan menghilang berganti bukit-bukit batu cadas dan terjal, tak tampak lagi kehidupan. Dengan menajamkan mata ke arah punggung bukit, ternyata ada gerombolan kambing salju alias black nose sheep. Mereka lagi memamabiak rumput hijau yang tersisa di bukit batu nan curam. Perjalanan dengan kereta semakin menyenangkan ketika mengetahui tentang sejarah perkeretaan yang telah berlangsung sangat lama. Kereta ke Gornergrat Bahn merupakan rel tertinggi di Eropa yang dibangun sejak 1898.

Gornergrat adalah tempat terakhir yang bisa dicapai oleh kereta dari Zermatt. Dari sini kita bisa melihat beberapa jajaran pegunungan Alpen yang sangat menakjubkan. Pertama kali turun dari kereta, kita langsung bisa melihat pucak Matterhorn dengan jelas.

Di stasiun pemberhentian ini ada sebuah bangunan besar juga restoran yang menyediakan makanan ataupun makanan kecil dan minuman hangat. Hot chocolate merupakan minuman favorite yang selalu menemani wisatawan untuk menghangatkan badan sebelum atau sesudah berjalan-jalan di sekitar puncak Gornergrat yang dingin dan berangin sedikit kencang saat musim panas.




Suasana pagi di Gornergrat Bahn


Kereta berhenti, tiba Gornergrat yang berada diketinggian 3.089 mdpl. Untuk yang berencana menginap disana tersedia hotel juga toko suvenir. Wow saya cuma bisa membayangkan saja untuk menginap disana, pasti indah banget karena bisa melihat sunrise dan sunset diketinggian juga melihat bintang-bintang dimalam hari lebih dekat... tapi pasti mahal sekali yaa hehehe...

Saya langsung berjalan kaki mengarah ke pemandangan puncak Matterhorn yang berdidri gagah, nampak jelas tanpa awan yang menghalanginya.



Matterhorn dilihat dari Gronergrat Bahn

View gletser dari view point Gornergrat
  

Kemudian ke sudut pandang spektakuler Gorner glacier. Jangan lupa, mengabadikannya. Gorner Glacier adalah lembah gletser yang ditemukan di sisi barat massif Monte Rosa dekat dengan Zermatt di wilayah Valais, Suiss. Panjangnya sekitar 12,4 km dan lebar 1 hingga 1,5 km.



View gletser dari view point Gornergrat


Gornergrat viewpoint adalah area terbaik untuk menikmati pemandangan Matterhorn. Setelah mengagumi gletser yang spektakuler dan ternyata saya juga sudah mengambil ratusan poto.... hehehe saking indahnya disetiap sudut area saya abadikan! 




Tiba di stasiun Rotenboden


Riffelsee Panorama

Tempat favorit saya untuk menikmati pemandangan Matterhorn adalah di jalur Riffelsee. Dari stasiun Rotenboden saya memulai perjalanan menuju Riffelsee. Banyak gambar klasik yang saya lihat dari Matterhorn diambil di Riffelsee, dengan puncak gunung Matterhorn yang dipantulkan di danau ini. Rute perjalanan berbatu-batu, jadi hati-hati melangkah, perjalanan sangat singkat (sekitar 15 menit) menuju Riffelsee.

Pemandangan dari Riffelsee yang ikonik, menawarkan pantulan cantik Matterhorn pada hari-hari yang cerah dan tenang. Kemudian saya meninggalkan kerumunan di belakang melanjuti pendakian menuju ke perhentian kereta berikutnya, dengan pemandangan Matterhorn yang indah sepanjang perjalanan.



Pantulan puncak Materhorn dipermukaan air Riffelsee


Riffelsee dihiasi bunga-bunga Wolgrass



Setelah menikmati keindahan danau dengan latar belakang Matterhorn, saya melakukan trekking dari stasiun Rotenboden berjalan kaki sebentar ke Riffelsee (danau Riffel), di mana saya bisa mendapatkan pantulan Matterhorn berbentuk piramid nan iconic yang terkenal itu dipermukaan danau yang tenang. Wow... sungguh indah!



Reflection yang sempurna dari puncak Matterhorn dipermukaan air Riffelsee


Cuaca yang cerah membuat pantulan yang sempurna, Riffelsee


View dilihat dari stasiun Rotenboden


Tidak heran spot ini menjadi primadona bagi wisatawan, baru saja 15 menit saya menikmati tenangnya suasana disekitar danau.... eeh rombongan wisatawan tiba-tiba berdatangan dan membuat suasana menjadi crowded... hehehe  Saatnya saya menikmati piknik makan siang sambil memandang pesona keindahan Materhorn dan Riffelsee.






Kemudian saya meninggalkan keramaian di belakang dan menikmati pemandangan Matterhorn yang menakjubkan di jalan setapak. Meskipun saya telah mengunjungi banyak gunung lain yang sama cantiknya, Matterhorn adalah sesuatu yang istimewa dan sepadan dengan upaya ekstra yang telah dilakukan. A trip that will pay off!

Seringkali awan menutupi Matterhorn, jadi jika sudah jelas, ambil foto sebanyak mungkin. Awan bisa bergerak cepat menutupi puncaknya! hehehe




Hiking ke Riffelberg

Kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki. Saya mengikuti jejak menuju Riffelseeweg, jaraknya sekitar 3 km ke Riffelalp. Rute perjalanan yang mudah (lihat peta jalan untuk Riffelalpweg) membutuhkan waktu berjalan sekitar 2 jam dengan kecepatan normal tapi saya cenderung lambat. Saya berjalan sendirian dan kadang-kadang satu-satunya di jalan tapi pesona Matterhorn yang selalu berada di pandangan mata dan hampir menemani di setiap jejak langkah, membuat rasa takut dan lelah hilang seketika.



Danau kedua setelah Riffelsee


Jalur pendakian melewati danau, kemudian turun ke Riffelalp, seperti yang ditunjukkan di bawah ini, sekitar 3 km. Dengan berjalan sekitar 2 jam dengan kecepatan normal yang cenderung lambat sehingga akan memakan waktu lebih dari satu jam. Ada beberapa jalur berbeda yang menuju ke Riffelalp, seperti yang ditunjukkan pada peta jejak di bawah ini:





Ikuti petunjuk jalan. Saat itu, saya mengambil rute ke "Riffelalp 55 min" dimana memiliki waktu hiking terlama, seperti yang ditunjukkan pada tanda jejak ini, tapi saya butuh sekitar 2 jam. Ini adalah jejak yang sedikit melelahkan, tetapi relatif mudah, dan juga sudah membuat kaki saya menjadi panas. hahaha




Danau kedua yang lebih kecil tepat setelah Riffelsee.



Jalur trek yang mudah dilalui


 Jalur trek yang gersang tanpa pohon



Jika Anda dapat mengalihkan pandangan Anda dari Matterhorn, gunung-gunung lain di daerah ini juga cantik.


Sepertinya saya mesti bekerja keras untuk bidikan ini, tetapi tidak. ^_^


Pandangan terakhir dari Matterhorn saat kami di tikungan.


Barisan puncak pegunungan Alpen


Berjalan menuju Matterhorn





Menikmati pemandangan yang dipahat Sang Pencipta dengan amat memukau ini. Di hadapan saya, berdiri dengan tegak Puncak Matterhorn. Udara sedemikian cerahnya, sehingga langit biru tanpa awan terlihat bagaikan latar bagi Pegunungan Alpen yang berkontras warna. Angin pun berhembus lembut menyapu wajah, sejuk yang saya rasakan walaupun matahari bersinar terik diatas kepala.


lebih dari 3 jam berlalu, saya mengakhiri hiking saya di Riffelalp. Dengan muka tampak lelah namun masih menunjukkan keceriaannya, kami menaiki kereta yang membawa saya kembali ke Zermatt.

Hari yang cukup melelahkan, tapi saya tak hentinya bersyukur atas pengalaman untuk menikmati keindahan ciptaan Allah. Dalam hati saya berucap “semoga suatu saat kami bisa kembali ke tempat ini lagi.”





Tidak perlu kawatir untuk jalan sendiri dan tidak perlu guide untuk menemani saat mendaki gunung karena disana kita bisa bertemu dengan pendaki yang lain... satu hal bagi saya untuk join dengan pemandu lokal: sangat mahal! Jangan takut tersesat, petunjuk arah jalan sangat jelas dan mudah dimengerti.

O iya, masih ingat dengan tiket kereta dengan tujuan Zermatt saya punya hilang sebelum berangkat, ternyata tiket itu terselip dikantong backpack dan saya temukan kembali. Saya coba mengembalikan tiket untuk ditukar dengan uang kembali... dan ternyata: bisa loh! hehehe... lumayan CHF 16.40 masuk kantong lagi deh. Tak terasa hari sudah merambat sore. Kami pun bertolak kembali ke Täsch untuk meneruskan perjalanan petualangan kami di Suiss ini.




LocationZermatt, Valais Switzerland
Address: Gornergrat Bahn Bahnhofpl. 1, 3920 Zermatt
Car: 3hr40 from Zurich HB to Tasch (Parkhaus Zermatt – CHF 15.50/day)
         then 12 min train to Zermatt (CHF 8.20 return with half-fare)
Train: 3hr15 from Zürich HB to Zermatt
         Adult return with half-fare CHF 75 (Day pass)
------------------------------------------------------------------------------------------
Trail: basic trail 3 km, with shorter and longer options noted below
Condition: mountain trail, dirt path, no strollers
Skill: easy
Open: train open year round - hiking best July through September
Prices 2018: Return trip on mountain train: Adult CHF 114
          SBB Half-fare and Junior cards accepted. Under 9 free
More info: www.zermatt.ch – webcam



ikuti petunjuk arah jalan agar tidak tersesat yaa...


Bagaimana menuju kesana:

By car: Zermatt adalah desa bebas mobil, jadi pertama Anda berkendara ke Täsch kemudian naik kereta ke Zermatt. Di Täsch, parkir di tempat parkir besar di sebelah stasiun kereta api.

By public transport: Naik kereta api ke Visp, lalu beralih ke kereta regional yang berlanjut ke Zermatt. Dari Zurich, ini memakan waktu sekitar 3 jam 15. Jika Anda meninggalkan Zurich pukul 7:00, Anda akan berada di Zermatt pada pukul 10:15. Rencanakan sekitar satu jam lagi untuk naik transportasi gunung sebelum mencapai sudut pandang atau mendaki.

Pada 2018, untuk tiket kereta api pulang-pergi dari Täsch ke Zermatt sebesar CHF 16,40/ dewasa, CHF 8,20/anak. Anak-anak di bawah usia 6 tahun gratis. SBB Half-fare dan kartu Junior diterima. Kereta berangkat setiap 20 menit.


A trip that will pay off!






Senin, 30 Juli 2018

Lets, Geting Lost in Budapest!



Destinasi berikutnya adalah Budapest, ibukota Hungaria. Alasan mengunjungi Budapest karena saya sangat menyukai arsitektur yang unik apalagi negeri Eropa, nah kalau beberapa negara di Eropa Barat ada yang tidak begitu asli bangunanya atau dengan kata lain banyak yang sudah dimodernisasi, berbeda dengan hal tersebut di Budapest semua terlihat begitu asli dan sangat arsitektural.

Masih di awal bulan Desember, dari Praha ke Budapest perjalanan sekitar 6 jam dengan menggunakan mobil, dan saya mengalokasikan waktu hanya tour 1 hari di sana walaupun kami menginap 2 malam disana. Praha dan Budapest biasanya menjadi satu paket tujuan wisata, bersama dengan Wina/Vienna (Austria), karena Praha-Wina-Budapest berada dalam satu garis dan dapat dengan mudah ditempuh dengan mobil. Rute petualangan kami tahun ini dimulai dari kota: Munich - Halsttat - Salzburg - Füssen - Vaduz - Rothenburg ob der Tauber - Berlin - Praha - Budapest - Wina.

Pagi sekali kami sudah keluar dari kota Praha. Saat itu kabut tebal menghalangi jalan, kanan kiri jalan dihiasi pohon-pohon gundul dan lapangan rumput yang berwarna putih karena dipenuhi kabut dan embun yang membeku, dengan suasana yang sepi, rasa cemas pun datang dan tanpa diduga akhirnya kami menemukan desa kecil yang indah tapi seperti tidak berpenghuni, tapi pemandangan sangat indah!

Dalam perjalanan menuju Budapest, kami sempat mampir di sebuah desa Bratislava untuk makan siang hari itu. Sengaja untuk tersesat setelah keluar dari jalan tol, seru loh! GPS tiba-tiba hilang signal, memasuki desa terpencil dengan suasana sepi dan sampai akhirnya kami melihat bangunan seperti rumah makan - pintu dan jendela tertutup tapi tidak terkunci. Kami mencoba masuk karena kami lihat ada sebuah mobil yang parkir. Dan ternyata, di dalam warung makan ini ramai dan dekorasinya pun unik sekali! tentu saja makanannya juga sangat enak.... tidak menyesal tersesat di kampung orang hehehe.

Setelah kami diantar uncle ke stasiun bus yaitu perbatasan Bratislava, kami melanjutkan perjalanan menuju kota Budapest dengan Bus malam. Kami hanya membawa backpack saja untuk membawa baju secukupnya, koper kami tinggal di mobil karena kami akan bertemu lagi dengan uncle Gerard di Wina-Austria besok lusa.




Perjalanan tinggal 2 jam lagi dari Bratislava menuju Budapest. Kami tiba sekitar jam 8 malam, angin di musim dingin menusuk tulang, untung saja bus berhenti depan stasiun MRT jadi kami langsung turun ke underground stasiun mencari tau bagaimana cara membeli tiket MRT. Karena buru-buru sarungtangan tertinggal dibangku bus, saya langsung kembali ke bus tapi bus sudah pergi. Untung saja kami menggunakan bus yang sama menuju Wina, jadi langsung menelpon bus untuk menitipkan sarung tangan saya yang tertinggal kepada bus yang menuju Wina besok malamnya. Memang masih milik saya, besok malam nya sarung tangan itu kembali ke tangan saya. Saat uncle Gerard menjemput kami di Wina dan saya bilang untuk minta tolong mengambil sarung tangan yang dititipkan dari bus karena kami saat itu belum tiba di Wina. fiuh... untung saya membawa 2 sarung tangan, jadi saat di Budapest saya tidak kedinginan. Jadi pesan saya: sebelum turun bus, cek dulu barang-barang sehingga tidak ketinggalan seperti saya, repot banget ngurusnya!




Suasana stasiun layaknya di negara Eropa lainnya, adalah gedung yang sudah tua tapi di Budapest suasana stasiun agak kotor dan terlihat sangat usang. Kami langsung mencari touris information didalamnya. Untuk mencari tau alamat dan bagaimana menuju hotel yang kami sudah booking dari Jakarta  dan mencari tau informasi mengenai destinasi wisata favorite dan tiket transportation one day dan tidak lupa mengambil map MRT dan map wisata di kota Budapest buat explore besok. Setelah semua kami dapatkan, kami langsung menuju Pal's Hostel yang terletak di  Szent István tér 3, untuk beristirahat malam itu. Ternyata bentuknya seperti apartment lengkap ada livingroom dan dapurnya, letaknya di sebelah gedung  Szent István Basilica, Wow keren! Saat mencari alamat, jangan ragu untuk bertanya, meski tidak semua orang di Budapest bisa berbahasa Inggris, tapi kalo kita bertanya akan di beri tahu dengan sangat detail bahkan diantar loh!





Nama Kota Budapest memang terdiri dari dua kota yaitu “Buda” yang berada disisi Barat dari kata Obuda dan “Pest” disisi Timur yang dihubungi oleh Chain Bridge. Budapest adalah sebuah kota yang dibelah menjadi 2 bagian oleh Sungai Danube, bagian Buda dan bagian Pest. Perbedaan paling mencolok dari dua kota ini terletak pada topografinya; Buda berbentuk bukit atau dataran tinggi, sedangkan Pest merupakan dataran rendah/datar. Karakter masing-masing kota juga berbeda; Pest sangat modern dan hidup, sedangkan Buda lebih terlihat tradisional dan klasik. Perbedaan itulah letak keunikan Budapest. Kejayaan bangsa masa lampau, tercermin dari arsitektur yang megah dan menawan. Kekhasan masa lalu, beradu dengan semangat mengejar masa kini, membuat Budapest menjadi salah satu kota di Eropa yang menarik untuk disibak ceritanya. Kotanya cantik banget, bahkan transportasi seperti metro aja masih dipertahankan gaya kunonya.

Menariknya lagi kota Budapest merupakan warisan dunia dilindungi oleh UNESCO sejak tahun 1987. Tidak heran, kebanyakan bangunan di Budapest sudah ada dari tahun 1700-an dan 1800-an. Hingga akhirnya kota Buda dan Pest bergabung membentuk satu Kota tahun pada tahun 1873.





Hungary sendiri memiliki mata uang sendiri, jadi tidak memakai Euro. Mata Uang Hungaria bernama Hungarian Forint dan bisa ditukar saat di Eropa atau gesek via ATM asalkan kartunya memiliki logo Visa/Mastercard yaa...untuk nilai satuannya HUF. Ketika saya kesana Desember 2016 yang lalu, 312 HUF sama dengan 1 Euro. Memang untuk traveling ke Eropa saat ini sudah mulai banyak lokasi dengan tarif akomodasi yang bersahabat. Namun, Budapest adalah yang termurah..

Cara paling mudah menukarkan uang di Budapest adalah dengan menggunakan ATM. Secara otomatis, mesin ATM akan mengkonversi uang di rekening kalian dengan rate HUF pada saat itu ditambah dengan biaya administrasi setiap pengambilan uang. Oleh karena itu, ada baiknya mengambil uang secukupnya dan menghindari pengambilan uang lewat ATM secara berulang-ulang.
Apabila kalian tidak memiliki ATM, tentu saja kalian harus menukar uang di bank atau money changer yang tersebar di pusat kota Budapest, hindari menukar atau menarik tunai di mesin ATM dan money changer dalam Central Station! Kurs rate di mesin atm dan money changer dalam stasiun jauh lebih tinggi di bandingkan di luar stasiun. Lebih baik tukar uang atau tarik tunai di luar stasiun. Di luar stasiun kita tinggal menyeberang dan berjalan sedikit. Tidak jauh dari situ kita akan ketemu mesin atm dan money changer. Kami memilih untuk tarik tunai di mesin atm menggunakan kartu debit terbitan bank di Indonesia.



Kantor Pos di kota oldtown, Buda

Layaknya kota-kota di negara Eropa lainnya, Budapest memiliki jalur transportasi umum yang baik. Setiap pusat kota dan tujuan wisata menarik telah dihubungkan dengan Metro, Trem dan juga Bus. Hal yang perlu kalian perhatikan sebagai turis adalah membeli tiket yang BENAR sebelum menggunakan transportasi umum tersebut. Sebagai turis, saran saya membeli tiket sesuai dengan berapalama kita tinggal di Budapest. Pada saat saya mengunjungi Budapest, saya membeli 24-hour travel ticket, karena saya hanya memiliki waktu 1 hari berkeliling kota. Apabila kalian hendak tinggal lebih lama, kalian dapat membeli 72 hour atau 7 days ticket. lebih murah.

Untuk informasi tambahan, apabila kalian bepergian dalam grup/family, kalian dapat membeli Budapest 24-hour travel group ticket seharga 3100 HUF yang dapat digunakan oleh 4 orang.

Untuk mencari tau transportasi umum atau bagaimana menuju destinasi di Budapest, kami menggunakan moovit.com sangat membantu loh! Berikut tempat yang kami sempat kunjungi di Budapest:



1. Fisherman's Bastion

Spot ini wajib dikunjungi jika anda berkesempatan mengunjungi Budapest, indah banget deh! Ada beberapa objek yang populer di area ini adalah antara lain: Matthias Church, National Gallery dan kastil Fisherman's Bastion dan berkunjung kesini gratis.

Pagi-pagi kami sudah siap memulai petualangan. Dengan menumpang bus No.16 kami menuju Fisherman's Bastion (Halászbástya orang lokal menyebutnya) yang berlokasi di atas bukit bagian kota  Buda. Kami duduk dibangku dekat jendela biar bisa melihat pemandangan. Saat bus melintasi Chain Bridge pemandangan yang disuguhkan sangat menyegarkan mata.

Sekitar 20 menit perjalanan kami tiba di halte bus Fisherman's Bastion dan disambut menara St. Matthias Church. Gereja dengan bangunan bergaya Gothic penuh dengan relif-relif yang indah, sebuah gereja Katolik Roma yang dibangun pada  tahun1015. Awalnya gereja ini bernama The Church of Mary kemudian diganti menjadi St. Matthias Church yang diambil dari salah satu raja Hungary yang memerintah di tahun 1458.


St. Matthias Church


Banyak kejadian bersejarah bertempat di gereja yang sudah berumur 700 tahun ini, salah satunya penobatan Raja Charles IV pada 1916, yang merupakan kaisar terakhir Austria dan raja terakhir Hungary. Gereja ini juga sempat digunakan sebagai tempat berlindung oleh tentara Jerman dan Soviet pada tahun 1944-1945 saat pendudukan Soviet di Hongaria.

St. Matthias Church juga pernah menjadi masjid pada saat pendudukan Ottoman Turki di negeri ini dan merupakan masjid yang paling terbesar di abad 14 ketika itu. Gereja ini juga menjadi saksi penobatan para raja-raja Hungary, saat ini masih menjadi Gereja dan digunakan oleh masyarakat setempat serta gereja tertua di dunia.







Diantara Matthias Church dan Fisherman’s Bastion, berdiri patung seseorang yang menunggangi kuda dan dia adalah statue of St. Stephen (the first christian king of Hungary). Berdekatan dengan St. Matthias Church, ada satu bangunan yang mencuri perhatian kami karena bentuknya yang sepeti kastil di dongeng-dongeng... nama bangunan ini adalah Fisherman’s Bastion. Fisherman's Bastion memiliki tujuh menara yang menggambarkan tujuh suku Magyar, suku asli di Hungary. Dinding kastil dulunya dilindungi para nelayan, dan banyak sekali penjual ikan disekitarnya, itulah mengapa bangunan tersebut dinamakan Fisherman's Bastion.


statue of  St. Stephen


Bastion ternyata salah satu tempat terbaik yang menjadi tujuan para turis di kota Budapest. Dari tempat kami berdiri di Fisherman’s Bastion, kami dapat melihat Danube River, Parliament Building Budapest yang sangat megah dan Chain Bridge.

Parliament Building Budapest (kalo bahasa Hongaria-nya: Országház) adalah bangunan yang paling iconic di Budapest, merupakan salah satu gedung legislatif tertua di Eropa persis berdiri megah di tengah kota di pinggir Sungai Danube yang pasti akan mencuri perhatian banyak turis. Walaupun kami hanya melihat dari kejauhan, bangunan yang sudah berusia lebih dari 100 tahun ini membuat kami berdecak kagum, begitu indah dan megahnya! Areanya luas, serta gedungnya dilihat dari sisi manupun dipandang cakep.


Parliament Building, Budapest


Oh…Budapest ! Dalam sekejap teras Fisherman Bastion dipenuhi  pengunjung yang berebut tempat strategis untuk mengabadikan keindahan ini. Memang Spot ini salah satu terbaik untuk mengabadikan Parliament Building: dari atas bukit tepatnya Fisherman Bastion dan kearah stasiun Batthyany di seberang sungai tepat berhadapan dengan Parliament Building, kami mencoba mengambil gambar utuh gedung ini dari Fisherman’s Bastion.

Arsitektur bangunan yang menarik dengan kolaborasi antara desain arsitektur Romawi, Gothic, dan Turki mewarnai bangunan-bangunan di kota ini. Selain itu, banyak perpaduan nuansa yang lain, seperti klasik dan romansa.

Suasana di awal bulan Desember sedikit berkabut sehingga pemandangan terlihat magical tapi tidak bisa lama kami berdiri memandang pemandangan indah itu, karna angin yang berhembus dingin menyentuh wajah. Di area view point ada cafe yang menjual minuman dan kue dan disediakan kursi untuk menikmati makanan dan pemandangan. dan ini membuat orang betah berlama-lama disana. Saya suka tempat ini..a wonderful landscape and a must-see place!

Setelah puas kami mengelilingi area Fisherman's Bastion dan tidak lupa mengambil beberapa poto disana, kami berjalan kaki keluar mengitari oldtown dan disana kami menemukan food court yang menjual makanan lokal Budapest dan menu for tourist too! saya memilih menu nasi, daging dengan bumbu merah yang berasa sedikit manis-lupa namanya dan sayuran, dengan harga seperti makan di mall Jakarta yaa...hehehe. Setelah selesai lunch,  kami melanjutkan perjalanan berikutnya menuju Buda Castle.




2.  Buda Castle

Selanjutnya kami menuju Buda Castle, this was the residence of Hungarian Kings. Kami mengambil bus no.16 turun di halte Dísz Tér, gerbangnya berada dipinggir Sungai Danube. Buda Castle ini merupakan sebuah kompleks istana sangat luas yang terletak di atas bukit. Untuk menuju ke istana kami menggunakan funicular (kereta/tram bentuknya kotak) dan antik, terlihat umurnya sudah panjang ya hingga saat ini masih layak digunakan. Saat kami tiba di gerbang, sudah ada beberapa orang yang mengantri didepan pintu loket funicular. Untuk satu funicular diisi maksimal 6 orang. Perjalanan keatas cukup curam, ada sedikit rasa cemas tapi untungnya perjalanan tidak lama akhirnya sampai di pintu masuk Buda Castle dari kejauhan kita bisa melihat patung Citadella yang sering menjadi tempat shooting film Holywood berada Gellért Hill letaknya disebelah kanan castle.



Funicular menuju Buda Castle
Antrian tiket Funicular menuju Buda Castle


Menurut sejarahnya, Buda Castle dibangun antara tahun 1247-1265, sempat mengalami berbagai perubahan. Masa keemasan istana tersebut adalah saat Raja Matthias Corvinus menikah dengan Beatrice dari Napoli, Italia pada 1476. Banyak seniman Italia yang menyumbangkan keahliannya untuk mendekorasi istana tersebut. Kini, istana tersebut menjadi salah satu situs warisan dunia dan menjadi tempat bersejarah yang menjadi daya tarik para turis.

Di bagian belakang kompleks kastil kita bisa melihat pemandangan cantik kota Budapest sebelah Barat. Setelah selesai mengunjungi Buda Castle kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyebrangi Chain Bridge.







3. Chain Bridge

Széchenyi orang lokal menyebutnya, Chain Bridge (Jembatan Rantai) merupakan jembatan permanen pertama di Hongaria yang dibangun melintasi Sungai Danube dan menggabungkan wilayah Buda dan Pest. Jembatan tersebut dirancang oleh insinyur asal Inggris, William Tierney Clark, pada 1839. Namun, jembatan itu baru resmi digunakan pada 1849, setahun setelah Revolusi Hongaria.





Struktur jembatan ini terdiri dari dua buah gerbang yang dihubungkan dengan sebuah besi yang kokoh dan ditengah nya terdapat lampu-lampu antik yang sangat cantik jika dilihat di malam hari. Kemudian menghadap kota Pest terdapat dua buah patung Singa yang menjadi penjaga dari jembatan ini, begitu klasik dan megah. Menjelang malam keindahan gemerlap lampu lampu di sepanjang jembatan ini menambah keindahan kota ini sehingga banyak orang mengatakan bahwa kota ini adalah Paris from The East.





4.  St. Stephen’s Basilica

St. Stephen’s Basilica, Gereja ini merupakan gereja terbesar di Budapest berdiri gagah di pusat kota Pest, megah dan indah yang bisa menampung hingga 8500 orang di dalamnya. Ada tulisan diatas pintu depan St.Stephen’s Cathedral: “EGO SUM VIA VERITAS ET VITA”. Saat melihat ukiran tulisan itu, saya belum menemukan artinya. Sesampainya di Indonesia, saya cari arti kata-kata itu dan searching, ternyata artinya adalah “I am the Way, the Truth, and the Life” (John 14 : 6).


Alun-alun didepan Gereja saat itu ada Christmas market, dekorasi natal dan warna warni lampu laser yang menghiasi gereja menambah kemeriahan. Ditengah alun-alun ada pohon Natal berwarna merah yang sangat indah dan ada lapangan kecil ice skating bagi anak-anak. Banyak jajanan yang ditawarkan dan berbagai ornamen-ornamen natal dan tak lupa juga berbagai minuman bir hangat bisa kita nikmati. Warga berkumpul dan menikmati jajanan di depan St. Stephens Basilica saat Festival Natal. Meriah sekali!

Menurut sejarahnya, butuh 50 tahun untuk membangun gereja ini. Nama Stephen diambil dari nama Raja pertama Hungary. Bagian tangan kanan sang raja yang telah diawetkan juga bisa dilihat di bagian kiri chapel dekat altar utama. Interior indah bergaya neo-renaissance di dalam gereja sangat indah dengan dekorasi yang memukau. Meski arsitekturnya lebih mirip katedral, gereja ini diberi gelar 'basilica minor’ oleh Paus Pius XI pada 1931.




Kami menikmati suasana Christmas market beberapa pertunjukan atraksi Natal seperti paduan suara anak-anak dan juga artis ibu kota, Santa Clause dengan loncengnya, berjalan-jalan sambil menyeruput secangkir anggur panas di tangan, Suasana Christmas market semakin meriah dengan suasana keindahan arsitektur abad ke-19 di St István Square.




5. Heroes’ Square

Selanjutnya mengunjungi Lapangan Pahlawan (Heroes’ Square) dan dipenuhi christman market juga. Memang sejak awal Desember penjuru kota sudah mulai menyelenggarakan christmas market untuk menyambut perayaan Natal. Dan beberapa patung tetutup dengan stan-stan pedagang di alun-alun.

Heroes Square Budapest dalam bahasa Hungary disebut Hosok Tere merupakan salah satu bangunan tertua dan dinyatakan sebagai World Heritage Site. Alun-alun ini merupakan alun-alun kota terbesar di Budapest yang dibangun pertama kali pada 1896 merupakan pintu masuk ke taman kota dan sebagai lambang memperingati 1000 tahun sejarah suku Magyar. Di tengah-tengah lapangan itu terdapat patung malaikat Gabriel berdiri di atas pilar utama, memegang mahkota suci dan salib ganda. Ketujuh kepala suku yang memimpin suku Magyar di Hungary juga terdapat di sisi bawah pilar tersebut. Sementara patung raja dan tokoh sejarah penting lainnya berdiri di kedua sisi pilar tengah. Di samping square ini terdapat 2  museum yaitu Art Gallery dan Museum of Fine Arts.

Saat monumen itu dibangun, Hungary merupakan bagian dari Kekaisaran Habsburg Austria, sehingga terdapat bagian terdapat patung-patung anggota dinasti Habsburg yang berkuasa. Namun, patung tersebut kemudian digantikan dengan patung pejuang kemerdekaan Hungary, ketika monumen tersebut dibangun kembali setelah Perang Dunia II.


6. Vasacsarnok (Central Market Hall)

Sebelum mengakhiri petualangan di Budapest, kami mengunjungi salah satu main shopping area di Budapest yaitu Vaci Street (Vaci Utca) yang terletak di city centre. Lalu berlanjut ke Vasacsarnok (Central Market Hall). Ini adalah salah satu pasar indoor terbesar di Budapest dengan arsitektur bangunannya yang kuno tetap dipertahankan. 

Untungnya saya bukan tipe gila belanja ketika jalan-jalan. Tapi, kalo ada yang suka belanja pilihan termurah buat belanja di Budapest yaitu di Central Market. Central Market di Budapest cukup unik, lantai dasar digunakan untuk jualan sayuran dan buah-buahan. Sedangkan lantai dua digunakan untuk jualan souvenir. Central Market ini terletak di dalam gedung bergaya kolonial yang cantik dan megah.

Pesan saya kalau ingin membeli oleh-oleh, lebih baik pergi ke Central Market dibandingkan berbelanja di toko-toko souvenir di tengah kota ataupun di tempat-tempat wisata. Selain harganya lebih murah, ada sangat banyak pilihan kios sehingga kita dengan mudah bisa membandingkan harga. Kalau mau ke sana bisa naik metro, turun di stasiun Kálvin tér. Pasarnya langsung kelihatan dari stasiun. Saya nggak tahu pasti jam bukanya, tapi kemungkinan dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore. Salah satu cara untuk menikmati pemandangan sepanjang Danube Promenade dari sisi Pest, bisa naik Tram No.2 : untuk menikmati keindahan Danube tanpa jalan kaki. Setelah puas mengelilingi pasar, kemudian sore harinya kami bersiap menuju Vienna. Walaupun saya tidak dapat melihat seluruh keindahan kota Budapest, tapi saya dapat merasakan kekentalan budaya Eropa Tengah yang jauh berbeda dengan negara di belahan benua Eropa lainnya.



Central Market Hall



Tips membeli air mineral kemasan: Bagi yang pernah traveling ke Eropa pasti tau, kalau air mineral kemasan di sana terdiri dari 2 jenis. Air kemasan dengan tambahan asam karbonat, dan air mineral tanpa tambahan asam karbonat. Air kemasan di Indonesia yang biasa kita minum masuk di kategori yang terakhir. Rasanya jelas beda. Nah, untuk itu biar mudah membelinya kita perlu tau membedakannya. Dalam kemasan berbahasa inggris, air mineral dengan tambahan asam karbonat biasa ditulis dengan ‘sparkling mineral water’. Masalahnya, di Budapest, tak semua air kemasan dilengkapi dengan label berbahasa Inggris. Bagi kita yang tak banyak tau bahasa Hungary, ini lumayan bikin terpaku di depan lemari minuman…heheheh. Kalau pengen beli air mineral tanpa tambahan karbonasi di Budapest, cari yang bertuliskan ‘szénsavmentes’, yang dalam bahasa inggris artinya non carbonated.






Karena begitu banyak tempat yang bisa di eksplore yang penuh dengan keindahan pada setiap sudut dan bentuk bangunannya memanjakan mata... dan belum sempat kami kunjungi dengan waktu yang sangat terbatas dan belum lagi udara di awal musim dingin di bulan Desember ini bener-bener menusuk tulang saat hari menjelang malam dan tentu saja membuat kami ingin segera balik ke penginapan yang ada penghangatnya. Seperti: berfoto dibawah patung Citadella di Bukit Gellért, mengeksplor Gedung Parlemen, mendaki tower St.Stephen’s Cathedral, pemandian air panas, Shoes on the Danube Bank, The House of Terror, mengunjungi Opera House dan lain-lain, ... aaagh itu berarti saya mesti kembali lagi!





TIPS 
Ada banyak hal yang kita sebaiknya tau sebelum berkunjung ke negeri ini.

Banyak Baca 
Baca sebanyak-banyaknya tentang Budapest sebelum ke kota ini. Sayang kalau hanya dinikmati dengan ber-selfie ria saja. Kota ini termasuk salah satu kota di Eropa yang kaya dengan warisan sejarah. Membaca buku sejarah Budapest akan sangat membantu saat kita mengunjungi kota yang sarat akan peninggalan sejarah ini.

Jangan sampai menyesal kayak saya karena melewatkan banyak dokumentasi penting di Budapest. Tapi kalau tidak cermat, kita bisa juga kena jebakan 'batman', alias tourist trap. Sesuai namanya, ini biasanya memang terjadi di kawasan yang ramai di kunjungi turis.

Bahasa di Budapest
Negara Eropa Tengah memiliki bahasa unik yang sulit sekali untuk dilafalkan dan juga didengar. Oleh karena itu, kalian perlu berkonsentrasi dan juga sigap ketika berada di dalam metro. Kalian harus mengetahui dengan jelas di stasiun mana kalian akan berhenti dan berapa jumlah stasiun yang akan kalian lewati. Jangan andalkan pendengaran kalian untuk mengetahui kalian sudah sampai di stasiun mana (karena bahasa Hungaria susah didengar!) tapi andalkan mata kalian untuk membaca papan nama stasiun yang selalu terpampang di setiap stasiun.

Bahasa tubuh berperan penting untuk bertahan hidup di Budapest (dan juga di tempat berbahasa aneh lainnya). Di stasiun kereta, jarang sekali petugas di Budapest yang bisa berbahasa Inggris, oleh karena itu kalian harus menunjuk dengan jelas tiket apa yang ingin kalian beli. Lain hal dengan tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh turis, kebanyakan penjual souvenir dapat berbahasa Inggris.

Makan siang ala Hungaria
Seperti di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya, makanan murah biasanya bisa ditemukan di foodcourt atau pasar tradisional. Di Budapest makanan dengan harga terjangkau bisa di beli di Central Market. Di lantai dasar ada berbagai macam gerai yang menjual berbagai makanan lokal. Harganya sekitar 17 HUF untuk sekali makan. Kalo mau murah lagi bisa cari semacam toko yang ada tulisan "Hus Hentes". Hus artinya daging dan Hentes artinya penjual daging. Daging dan roti bisa langsung di masak di tempat sesuai menu yang kita mau. Di tempat ini kita membayar sesuai berat makanan yang kita makan. Jelas dong tempat makan seperti ini bukan tipe saya, secara kalo saya makan pasti jatuhnya mahal terus. Kalo masih mahal bisa ke restoran yang menjual makanan dengan menu yang setiap harinya ganti. Walaupun namanya restoran, masakan di sini seperti masakan rumahan dan harganya jauh di bawah Central Market. Restoran ini biasanya buka menjelang makan siang jam 12.30, tapi kita harus cepet-cepetan sama turis lainnya kalo nggak mau kehabisan.

'Budapest Card' bisa jadi pilihan tapi pertimbangkan banyak hal
Biasanya para turis yang berkunjung ke Budapest ditawari untuk membeli Budapest Card. Ini bisa jadi pilihan yang bagus jika kita punya waktu cukup untuk mengelilingi tempat-tempat wisata di Budapest sekaligus. Karena dengan Budapest Card kita bisa dapat keuntungan gratis masuk ke berbagai museum yang ada selain bebas naik turun moda transportasi umumnya. Tapi jika waktu kita terbatas, dan tak semua turis punya gaya ala flashpacker, seperti kami maka kita perlu menghitungnya secara cermat. Saya menyarankan untuk membeli Budapest Card jika frekuensi pemakaian transportasi umum anda cukup sering.






Guide To Budapest - Places To Go In Budapest



Menikmati jajanan lokal di Chrismas market


Gluwine... beer rasa buah dan hangat