Laman

LIVE IS AN ADVENTURE

LIVE IS AN ADVENTURE

I think by traveling you can better appreciate yourself and the different cultures of the world... Enjoy life all around the world. To share with many people with different way of living. To love. To dance with the birds and sing with the wind....

Travelling brings color to my life. I'm travelling for the joy...
"...there is a difference between knowing the path and walking the path" - Morpheus

I am not good at writing but I want to share the adventure in my journey, but I have a lot of photo trips. Let the pictures are going to tell you about this trip ;)

Not only for the destinations, but it's about the journeys...
when you are traveling the time should be yours.

Some in my blog is using Indonesian, If you do not understand Indonesian you can use "Google Translate" at the top left of this blog. I hope this blog can be useful ...

DILARANG MENGAMBIL/COPY PHOTO-PHOTO DALAM BLOG INI TANPA IJIN!

GOOGLE Translate

Kamis, 07 Desember 2017

Mengunjungi Kota Tua Motovun, Croatia


Motovun - Croatia

Rute perjalanan saya selanjutnya yaitu Croatia, sebuah negara berbentuk bulan sabit ini tepatnya terletak di Eropa bagian tengah. Saya berkesempatan mengunjungi negeri ini selama 4 hari pada awal bulan Oktober 2017 lalu, termasuk 10 hari digunakan untuk road trip ke beberapa negara lainnya. Saya sangat terkesan dengan keindahannya serta laut-lautnya yang sebening kristal, dengan hamparan kota-kota tua yang unik tersebar diseluruh negeri dengan dihiasi nuansa warna warni musim gugur yang indah.







Untuk mengunjungi Croatia, saya melalui Slovenia dengan menggunakan Visa Schengen - multiple entry melalui negara Austria. Perjalanan hari ini cukup panjang, menjurus ke selatan, sepanjang jalan naik turun menyelusuri pegunungan hingga melintasi desa nelayan di Slovenia. Semua dihiasi landscape yang indah dengan barisan pegunungan Alpen dan perkebunan anggur, zaitun dan warna warni dedaunan di musim gugur membuat rasa lelah hilang lenyap begitu saja. 

Hingga akhirnya kami sampai dan berhenti di border check-point, keluar dari Slovenia untuk masuk Croatia. Disitu ada 2 kios seperti gardu satpam, satu yang di sisi Slovenia dan beberapa langkah ke sana itulah Croatia, yang jaga seorang pemuda dengan pelayanan yang astaga pelannya. Harus menunggu diurus satu persatu di Slovenia lalu lanjut giliran Croatia dan setelahnya selesai urusan, kami terus mengebut laju.




Ada kejadian lucu saat melintasi border check-point Croatia. Mungkin petugas imigrasi yang masih muda itu belum pernah melihat Passpor dari Indonesia: dia meminta saya untuk menjawab beberapa pertanyaan seperti: "nama ayah kandung?" saya sempat tersenyum, karena baru kali ini kan biasanya yang ditanyakan "nama ibu kandung ya.." dan beberapa kali menanyakan dimana letak Indonesia? hehehe.. membuat kami sempat tertahan di pos untuk beberapa menit, menunggu dia meminta bantuan/bertanya pada rekannya (saya tidak tau apa yang mereka bicarakan... sambil melihat ke arah kami di dalam mobil) setelah passpor saya dicap, akhirnya kami diperbolehkan melanjutkan perjalanan.


Gerbang Kota Motovun


Kali ini perjalanan saya mengunjungi kota tua Motovun yang berada di pusat kota Istria, Croatia. Kota tua yang sangat unik dan klasik diatas ketinggian. Kalau di Indonesia biasanya desa-desa terletak di kaki gunung, tapi berbeda dengan desa-desa di Eropa yang terletak di puncak bukit. Motovun salah satunya yang merupakan sisa-sisa peradaban dari abad pertengahan.

Motovun berada dikawasan situs kota kuno Kastelijer dengan ketinggian 270 di atas permukaan laut yang tersusun dari bebatuan menjadi ciri kota tua yang berada di bukit. Letaknya yang tinggi sulit dicapai pasti ada tujuannya pada masanya saat itu, misalnya untuk menghindari serangan dan menyerang musuh pada jaman dahulu kala dengan cara yang efisien.







Secara tradisi, Motovun banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Romawi. Tak heran karena bangsa Romawi tinggal di Motovun sejak abad ke-1 masehi. Saat ini, pemukiman diatas bukit tersebut menjadi obyek wisata yang menarik wisatawan. Di sini saya serasa dibawa untuk bernostalgia ke abad pertengahan. Jalanan, tembok dan tangga yang terbuat dari bebatuan, akan mengingatkan saya ke masa lampau.





Kami langsung melaju ke atas bukit hingga di gerbang kota ternyata mobil wisatawan tidak diizinkan masuk yang diperbolehkan hanya kendaraan penduduk lokal saja, kami harus memarkirkan mobil diarea parkir yang letaknya digaris biru sebelum jalan memasuki gerbang kota tua Motovun. Jalanan berbatu yang sempit menanjak dan berkelok-kelok diantara bangunan tua disepanjang jalan, berbaris toko-toko cindera mata, juga banyak penjual wine dan olive oil dengan berbagai ukuran botol.




Menyusuri jalan hingga ke pusat kota dengan berjalan kaki, tampak tembok dan benteng bangunan seperti menara lonceng gereja berdiri gagah dipinggir alun-alun. Meskipun cukup jauh, saya tidak merasa kelelahan karena sepanjang jalan yang saya lalui disuguhkan dengan pemandangan yang indah dan menarik hati. Motovun, desa dipuncak bukit ini seringkali dibanding-bandingkan dengan Tuscany di Italy.






Saya sempat makan siang di restaurant yang pemandangannya mengarah ke lembah gunung dengan  menyuguhkan keindahan hamparan tanaman berwarna-warni yang mengelilinginya. Saat musim gugur, Motovun seakan diselimuti hamparan karpet berwarna-warni dari tanaman anggur dan tumbuhan perkebunan dengan pemandangan lembah sungai Mirna. Bersantai sambil memandang keindahan lembah yang membentang dan menikmati makan siang dengan segelas wine sambil beristirahat setelah selesai berkeliling dengan suasana sekitar terdengar sayub-sayub musik tradisional dari dalam restaurant. Nikmatnya hidup ini ... huaaa  :-p



my lunch ^_^






Perjalanan yang lumayan panjang namun sangat menyenangkan, karena saya membawa pengalaman yang menarik dan tidak terlupakan. Buat teman-teman yang berencana kesini, harus sewa mobil dan setir sendiri yah, bisa dengan supirnya tapi pasti harganya jauh lebih mahal, karena disini belum ada kereta MRT dan kendaraan umum pun agak susah. Jangan kuatir karena lalu lintasnya tidak ramai, bisa dibilang masih sepi.

Motovun: absolutelly lovely place. Cars are not allowed inside, but it's a such a small town that you will manage to walk around. And the walk is wonderful! Charming, cosy, sunny, must see!









Rabu, 22 November 2017

Menyusuri Grossglockner High Alpine Road - Austria.


Puncak yang tertinggi dibelakang adalah puncak Grossglockner

Yipiiii..... perjalanan selanjutnya kami menuju Grossglockner High Alpine Road. Grossglockner atau dalam bahasa Jerman-nya: Großglockner merupakan puncak Gunung Grossglockner dengan ketinggian 3798 meter diatas permukaan laut. Melintasi Grossglockner High Alpine Road merupakan lintasan jalan yang tertinggi di atas seluruh wilayah lintasan pegunungan di Austria, yang melewati jalan dengan total 48 km mengarah ke pusat taman nasional terbesar yaitu Taman Nasional Tauern dengan luas 1.800 km² yang membentang dari provinsi Carinthia, Tyrol dan Salzburg. Titik lintasan tertinggi jalan gunung yang dapat dilalui adalah Edelweissspitze yang terletak tepat di atas 2.500 m diatas permukaan laut. Wow! Betapa senangnya karena aku akan bermain salju disana!









Perjalanan kami menuju Grossglockner, dimulai dari desa Heiligenblut. Terlihat daun-daun sudah mulai berubah warna sebagai tanda bahwa autumn sudah mulai datang di Heiligenblut. Desa ini tenang dan sangat indah, berada di lembah pegunungan Alpen. Heiligenblut merupakan salah satu tempat wisata ski area yang sangat populer di Austria. Karena bukan high season, kami langsung memperoleh tempat parkir dan gratis. Dari area parking, ada sebuah supermarket (ADEG) saya sempat mampir ke toko itu untuk membeli magnet dan lonceng sapi yang kecil. Kami juga melihat sebuah pemandangan yang sangat indah yaitu sebuah gereja yang sederhana dengan dihiasa menara yang cukup tinggi dan runcing dengan latar belakang pegunungan bersalju. Nama gereja tersebut adalah St. Vincent Church. Lihat gambar dibawah ini:


St. Vincent Church, Heiligenblut





Desa Heiligenblut dilihat dari bukit

Kami menginap semalam di sana,  nampak di sekitar penginapan barisan rumah-rumah kayu yang khas dan bergaya klasik dengan berhias bunga berwarna-warni hingga diatas balkon. Saya sangat menyukainya, indah! 

Udara pagi saat itu di awal bulan Oktober sudah terasa dingin bagiku tapi langit cerah berwarna biru menambah keindahan suasana pagi saat itu. Setelah sarapan pagi kami meninggalkan Hotel Kärntnerhof Heiligenblut untuk menuju Nationalparkplatz, tidak sabar untuk melintasi High Alpine Road dengan pemandangan yang pasti memukau karena dihiasi daun-daun berwarna-warni disaat musim gugur dan kemegahan pegunungan Alpen yang berselimut salju yang dikelilingi 266 gunung yang tingginya lebih dari 3000 meter. Sungguh! melintasi pegunungan pada saat musim gugur itu sesuatu banget deh!




Di bawah ini adalah beberapa foto yang kami ambil sebelum tiba di Nationalparkplatz. Gambar di bawah ini memperlihatkan sebagian jalan yang kami lalui dalam perjalanan dari Heiligenblut menuju Nationalparkplatz. Gambar ini aku buat dari dalam mobil:










Di pintu gerbang High Alpine Road kami harus membayar 35.50 per mobil untuk trip satu hari dan penumpang tidak dihitung. Petugas loket memberi kami sebuah tiket masuk dan sebuah brosur. Setelah menerima tiket, kami langsung meneruskan perjalanan lagi. Jalan yang kami lalui berkelok-kelok dan makin lama makin naik ke atas. Tujuan akhir kami Nationalparkplatz yaitu di Kaiser-Franz-Josefs-Höhe yang tingginya 2.369 mdpl. Dari situ kami bisa melihat Grossglockner dengan jelas.

Sebelum tiba di tempat tujuan, kami berhenti di beberapa tempat dengan memarkir mobil di pinggir jalan sehingga kami bisa berpoto-poto. Pemandangan di situ, terlihat sangat indah. Tidak heran, dalam perjalanan tersebut, kami melihat beberapa mobil yang berhenti di suatu tempat. (lihat gambar bawah):






Disepanjang perjalanan ada beberapa restaurant jadi jangan kawatir jika tidak membawa bekal seperti kami sempat mampir di salah satu restaurant untuk makan siang. Rasanya betah berlama-lama di restaurant ini selain pemandangan yang disuguhkan sangat indah juga ada wifi-nya super duper kencang walaupun diatas ketinggian, tentu saja saya tidak sabar untuk langsung eksis hahaha... dan ternyata disetiap restaurant sepanjang lintasan High Alpine Road tersedia wifi tanpa pasword, jadi langung terkoneksi dengan cepat, bahagia kan?!)






Melintasi beberapa zona vegetasi - dari padang rumput gunung sampai es abadi. Grossglockner High Alpine Road layaknya seperti pita hias raksasa yang membentang dan berkelok-kelok diantara barisan pohon-pohon yang berwarna-warni, diantara pegunungan dan reruntuhan batu juga salju yang jatuh yang berada di pinggir jalan. Terlihat juga air terjun kecil di dinding batu, salju tipis jatuh menyentuh pipi dan hembusan deru angin di daerah puncak menciptakan soundscape alpine yang tak terlupakan. Dan kemudian, tiba-tiba, dia muncul dibalik kabut: keagungannya, Grossglockner, gunung batu cadas hitam tampak gagah berbalut salju putih abadi gletser! Setelah puas poto-poto di sana, kami masuk mobil lagi dan meneruskan perjalanan.  Aku suka pemandangan alam di sini, latar belakangnya bagus yaa..






Saya juga berpoto dengan latar belakang gunung bersalju. Gunung bersalju yang menjadi latar belakang sebetulnya adalah gunung yang letaknya di seberang gunung tempat saya berpijak. Jaraknya tidak dekat, dibatasi oleh jurang dan lembah yang luas. Namun dalam gambar di bawah ini, seolah-olah mereka berada di kaki gunung bersalju tersebut:










Waktu itu sudah memasuki bulan Oktober sudah banyak tempat yang bersalju, termasuk jalan yang kami lewati tersebut. Mungkin saja salju yang ada di kanan kiri jalan tersebut bukan salju sisa winter tahun sebelumnya tapi salju yang turun tadi malam. Kebetulan hari sebelumnya memang lebih dingin daripada hari itu. Suhu pada pada hari itu adalah sekitar 6 derajat celcius tapi terasa hangat karena sinar matahari bersinar terang sekali.







Dalam gambar (di bawah ini) terlihat tiang-tiang yang berjajar di pinggir jalan. Tiang-tiang ini dipasang dengan sengaja bukan tanpa alasan. Bila ada tumpukan salju yang tebal, tiang-tiang tersebut akan membantu pengemudi untuk mengetahui batas jalan. Dengan tiang-tiang yang dipasang di kanan dan kiri jalan, pengemudi akan mengendarai kendaraannya diantara tiang-tiang tersebut. Kalau ngga ada tiang, bisa-bisa kita nyetir kendaraan terlalu ke pinggir dan tidak menyadari kalau sudah sangat berbatasan dengan jurang. Ini akan sangat berbahaya karena kendaraan bisa jatuh ke jurang yang dalamnya ratusan meter.





Lintasan yang berlapis diantara ketinggian pegunungan Alpen


Akhirnya kami tiba di Nationalparkplatz. Namun sebelumnya kami harus mencari tempat parkir. Parkiran sudah penuh, untung saja di sana ada parking garage yang memiliki beberapa lantai. Kami langsung menuju parkiran mobil ke dalam gedung.




suasana view point Nationalparkplatz


Dari Nationalparkplatz kita bisa menikmati kemegahan Grossglockner dengan jelas. Makin siang jalan makin ramai dan view points juga makin banyak dikunjungi orang. Untunglah bukan hari libur, jadi tidak bener-bener penuh sesak. Untuk poto-poto bisa dilakukan dengan mudah tanpa berebutan dengan orang lain.  Di Nationalparkplatz tersebut ada pagar untuk pengamanan.

Pada waktu itu kami berada pada ketinggian 2369 mdpl, padahal tinggi Grossglockner adalah 3798 mdpl. Jadi kalau mau ke puncak gunung, paling tidak kita harus mendaki lebih dari 1400 mdpl lagi dari tempat kami berada, jika diukur tegak lurus yaa ^_^  Berhubung saya bukan pendaki profesioanal, dan dengan suhu dingin diantara salju seperti itu tidak mungkin saya mendaki ke puncak Grossglockner tersebut. Yang bisa saya lakukan untuk bisa menikmati kemegahan Grossglockner memandang dan mengabadikannya dari view point Nationalparkplatz. Dari situ kami bisa melihat puncak Grossglockner dengan jelas.


puncak Grossglockner


Saya sedikit heran karna ditengah-tengah parkplatz ada perahu dengan dayungnya yang terbuat dari besi apakah mungkin ada cerita dibalik itu? Saya tidak menemukan jawabannya. Di seberang tempat tersebut juga ada sebuah restoran dan toko souvenir, saya sempat mampir untuk membeli, yang mau ke toilet juga ada disediakan disini bersih dan ngga perlu bayar. Jauh di bawah sana, kami melihat ada semacam danau. Terlihat kecil karena kami berada jauh di atas. Setelah puas membuat berbagai macam poto, kami meninggalkan Nationalparkplatz. Kembali ke mobil dan meneruskan perjalanan ke Salzburg, sebuah kota kecil yang sangat cantik.







Lintasan Grossglockner High Alpine Road

Rute lintasan yang kami lalui dari Heiligenblut di Carinthia hingga Fusch-Ferleiten di Salzburg. Kami hanya mengikuti alur lintasan pegunungan. O iya, Jalan ini tidak dibuka sepanjang tahun loh! Misalnya untuk tahun 2017 jalan ini dibuka dari bulan Mei sampai dengan November, tetapi apabila cuaca buruk, jalan ini juga ditutup. Informasi bisa dilihat di sini.


Heiligenblut - Austria


Heiligenblut, Austria


"Enjoy Grossglockner High Alpine Road leads you into the high alpine regions the breathtaking panoramic view that changes from one hairpin bend to the next. You are surrounded by 266 mountains over 3000 meters high in the Hohe Tauern National Park alone. Awesome!"