LIVE IS AN ADVENTURE

LIVE IS AN ADVENTURE

I think by traveling you can better appreciate yourself and the different cultures of the world... Enjoy life all around the world. To share with many people with different way of living. To love. To dance with the birds and sing with the wind....

Travelling brings color to my life. I'm travelling for the joy...
"...there is a difference between knowing the path and walking the path" - Morpheus

I am not good at writing but I want to share the adventure in my journey, but I have a lot of photo trips. Let the pictures are going to tell you about this trip ;)

Not only for the destinations, but it's about the journeys...
when you are traveling the time should be yours.

Some in my blog is using Indonesian, If you do not understand Indonesian you can use "Google Translate" at the top left of this blog. I hope this blog can be useful ...

DILARANG MENGAMBIL/COPY PHOTO-PHOTO DALAM BLOG INI TANPA IJIN!

GOOGLE Translate

Senin, 10 April 2017

Diving di Pulau Weh, Aceh


Pantai Iboih, Sabang

Keindahan alam Indonesia memang begitu banyak membentang dari Sabang sampai Merauke, salah satunya terdapat di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam, yaitu Pulau Weh. Pulau yang perairannya ini menawarkan indahnya alam bawah laut dan wisata bahari yang masih alami.

"Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau..." Itu adalah salah satu penggalan dalam syair lagu nasional kita. Sabang adalah ibu kota Pulau Weh. Pulau Weh terletak di jalur pintu masuk ke Selat Malaka, dengan demikian tak aneh kita akan melihat cukup banyak kapal-kapal tanker maupun pesiar yang lalu lalang di kawasan laut Pulau Weh yang terletak tak jauh dari pantai dari Banda Aceh, kota yang hancur saat bencana tsunami 2004.


Bandara Kualanamu Medan saat tengah malam, tetap exis ^_^
Tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh


Petualangan kami kali ini, mengambil tiket keberangkatan Jakarta - Medan dan dilanjutkan ke Banda Aceh dan saat balik kami mengambil rute langsung Aceh - Jakarta. Sudah malam kami tiba di Medan sekitar jam 10 malam, tapi kami menyempatkan untuk berburu durian Ucok dan berkeliling kota Medan. Setelah lelah dan kekenyangan kami kembali ke Bandara Kualanamu untuk bersitirahat sejenak sebelum melanjutkan penerbangan ke Banda Aceh. Matahari terik menyambut kami saat tiba di Bandara Maimun Saleh, Kota Sabang. Sebuah kota yang berada di pulau paling barat Indonesia dan berjalan-jalan di Pulau Sabang tentu saja akan meninggalkan kesan tersendiri.


 

Akhirnya keburu juga makan durian di kota Medan


Kami pun langsung dijemput oleh mobil yang sudah kami booking dari Jakarta melalui Pak Bokhari seorang pemilik homestay di Iboih. Untuk menuju Sabang ada 2 transportasi penyebrangan yaitu pertama kita dapat menggunakan kapal Feri saat pagi hari di Pelabuhan Ulee Lheue dan akan tiba di Pantai Gapang. Menggunakan kapal Feri akan butuh waktu sekitar 2 jam, dan satu lagi menggunakan speedboat yang memakan waktu sekitar 45 menit. Tentu saja kami tidak ingin berlama-lama di kapal dan langsung memilih kapal cepat yaitu Speedboat. Untung saja kami masih sempat menumpang kapal cepat yang hampir meninggalkan pelabuhan, setelah tiba di pelabuhan kami langsung berlari-lari menuju kapal yang katanya akan segera berangkat.... fiuuh... perjuangan yang tidak sia-sia hahaha....

Kami mengambil penginapan yang persis berada di tepi pantai Iboih, yang dihiasi jernihnya air laut berwarna hijau kebiruan dan nampak disebrang mata memandang Pulau Rubiah yang hanya berjarak sekitar 350 Meter dari pantai Iboih cukup menempuh 10 menit perjalanan naik boat mesin. Pilihan saya tidak salah karena view-nya yang sangat eksotis, dikelilingin pepohonan rimbun ditambah sebuah ayunan yang terpasang di depan kamar yang menjorok ke laut. Suasana yang tenang dan sejuk sangat pas untuk kami menghapiskan sore hingga malam sambil menikmati secangkir kopi Aceh Ulee Kareng dengan ditemani deru laut menghempas bebatuan. Pantulan sinar bulan saat malam tiba pun kian menambah eksotisme wisata di pantai Iboih ini. Sebuah pengalaman wisata yang sangat berkesan!




Snorkling di depan kamar penginapan, Iboih

Pantai Iboih, yang berada di Pulau Weh, adalah pantai yang sering dikunjungi oleh mereka yang ingin melakukan penyelaman. Pulau ini memiliki ventilasi vulkanik aktif yang mengeluarkan gas belerang dan terletak dekat dengan zona subduksi aktif dan keindahan bawah laut di Pulau Weh, termasuk menyusuri jejak-jejak alam yang memisahkan pulau Sabang dari pulau besar Sumatera. Karena ombak lautnya kuat, Pulau Weh juga menjadi tempat berselancar yang seru di Aceh.




Keesokan harinya kami bersiap untuk menyelam. Bagi pecinta laut seperti saya tentu tak akan melewatkan kesempatan untuk menyelam di pulau yang masih terbilang vulkanik aktif ini. Sabang memiliki kurang lebih 20 spot menyelam yang sudah tersohor hingga ke mancanegara terutama spot "The Canyon" dengan struktur batu vulkanik bawah air dengan kedalaman antara 15 - 70 meter. Lalu ada spot "Batee Tokong" dan "Sophie Rickmers" yaitu bangkai kapal sepanjang 134 meter yang tenggelam pada tahun 1940.






Iboih sudah memiliki beberapa operator diving yang siap membantu kegiatan menyelam kita, meskipun hanya datang seorang diri, tentunya nanti akan ditemani dive guide yang sudah berpengalaman. Saya menyelam di West Seulako pada pagi hari dan spot ke dua di Batee Tokong pada siang hari dan ketiga di The Canyon. Saya menyukai spot Batee Tokong karena kontur wall dive-nya dan saya bertemu giant kima, lion fish, scorpion fish, nudibranch dan moray eel banyak sekali dengan berbagai macam motif dan warnanya, juga berbagai coral dan ikan berwarna-warni yang sehat dan indah maupun terumbu karang yang masih kokoh dengan indahnya.







Giant Kima, Iboih






Lion fish, Iboih
Garden Eels, Iboih





Hari ketiga kami berkeliling pulau sebelum kembali ke kota Banda Aceh, menyusuri pantai Iboih ternyata menyusuri pantai ini disebelah kiri bukit terdapat barisan rumah dan homstay diselingi pohon rindang dan bangku-bangku dari kedai penjaja makanan ringan dan air kelapa, sungguh perpaduan yang sempurna untuk melepas lelah dengan terpaan angin yang lembut menyapa wajah. Sesekali terlihat kapal-kapal nelayan juga kapal untuk menuju pulau Rubiah. Kami mengakhiri kunjungan dengan perjalanan mengunjungi Kilometer Nol Indonesia yang lokasinya dekat dengan Iboih. Di sana, berdiri tugu yang dinamakan sebagai Tugu Kilometer Nol Indonesia yang sebenarnya tidak dipancangkan persis di garis terluar sisi barat wilayah Indonesia yaitu Pulau Lhee Blah, berupa pulau kecil di sebelah barat Pulau Breuh. Namun untuk mempermudahkan akses wisata titik nol kilometer Indonesia, maka dibangunlah monumen dilokasi ini. Tugu ini berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Jalan yang berkelok-kelok dan beberapa ekor monyet tampak berada di pinggir jalan, hutan disisi kiri dan pemandangan laut di sisi kanan membuat perjalanan tidak merasa membosankan. Capek dan perjalanan yang cukup panjang bisa terbayarkan lunas dengan panorama yang menakjubkan baik di atas maupun di bawah laut.




Selain tempat-tempat diatas masih banyak lagi destinasi lainnya seperti Taman laut Pulau Rubiah, Pantai Pasir Putih, Danau Air Tawar Pria Laot, Gua Sarang, Pantai Gapang, Pantai Kasih, Pantai Tapak Gajah dan sebagainya. Namun keterbatasan waktu membuat kami tidak dapat mengunjungi semuanya. Dalam hati, saya berharap akan kembali lagi suatu hari nanti karena pesona pulau ini sungguh memikat hati.





Kami menginap semalam di hotel 61 banda Aceh, untuk bisa menikmati suasana dan keliling kota serambi Mekah ini. Oh iyaa bagi para kaum hawa disarankan menggunakan baju yang sopan yaa jangan pake yang mini-mini apalagi terbuka, noted yaaa...! Yang tidak terlupakan kuliner di kota Aceh itu enak-enak loh! Jadi jangan lupa mencicipi kuliner khas Aceh, kami sempat makan siang di di salah satu rumah makan di kota, menu utama gulai kameng (kambing) yang tidak bau kambing, ikan kayu atau eungkot Keumamah, mie Aceh dicampur seafood dan ayam tangkap-ayam yang digoreng dengan berbagai macam rempah dan bumbu dicampur dedaunan, so yummiii... saat malam hari nya sempatkan juga nongkrong ditempat anak muda yang lagi ngehit disana sambil minum kopi terbalik  ^_^  yang awalnya bingung minumnya bijimane yaa hahaha....


Kopi tebalik yang ngehit di kota Banda Aceh, mesti coba nih!
Ayam gantung dan seafood menu khas dari Aceh

Sebelum meninggalkan kota Banda Aceh kami sempat mengunjungi Museum Tsunami dan Masjid Agung Baiturrahman Aceh dan tidak lupa mencicipi kuliner yang ngehit di Banda Aceh. Museum Tsunami Aceh yang letaknya di pusat kota beralamat di Jalan Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Saat mengunjungi Museum Tsunami begitu masuk kita seperti memasuki lorong gelap layaknya memasuki gelombang Tsunami dengan diiringi suara gemuruh ombak, setelah melewati tempat ini puluhan standing screen menyajikan poto-poto pasca Tsunami yaitu kerusakan dan kehancuran serta kematian saat bencana itu melanda kota Banda Aceh. Setelah itu memasuki ruangan "Penentuan Nasib" sering disebut juga "The Light of God" ruangan ini berbentuk semi cerobang yang redup. Hal ini merefleksikan perjuangan dan harapan para korban bencana kepada Tuhan Maha Pengasih, mereka seakan mendengar panggilan Ilahi dan terus berjuang hingga selamat keluar dari gelombang tersebut. Kemudian kita melintasi bentuknya seperti jembatan yang dinamai "Hope Bridge" ketika mencapai jembatan ini para survivor melihat bendera 52 negara-negara di dunia terletak diatas langit-langit seakan mereka mengulurkan bantuan untuk para korban bencana Tsunami. Ada juga pemutaran film Tsunami selama 15 menit. Tiket masuk: Gratis.
Begitu masuk di dalam, anda serasa memasuki lorong gelap gelombang tsunami dengan ketinggian 40 meter dengan efek air jatuh. Hati-hati dengan kepala anda, siapkan topi lebar agar rambut dan baju anda tidak basah. Bagi yang takut gelap dan masih phobia dengan tsunami, tidak disarankan untuk masuk dari jalur ini. Setelah melewati tempat ini, puluhan standing screen menyajikan foto-foto pasca tsunami berupa kerusakan dan kehancuran serta kematian, yang penuh dengan gambar korban dan gambar pertolongan terhadap mereka.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mus.aceh/ada-apa-di-dalam-museum-tsunami-aceh_551229d4a33311f056ba7ecb
Setelah dari ruangan ini, anda akan memasuki "Ruang Penentuan Nasib" atau "Fighting Room", sering disebut juga The Light of God. Ruangan ini berbentuk seperti cerobong semi-gelap dengan tulisan Allah dibagian puncaknya. Hal ini merefleksikan perjuangan para korban tsunami. Dimana, bagi mereka yang menyerah ketika tersekap gelombang tsunami, maka nama mereka terpatri di dinding cerobong sebagai korban. Sebaliknya, bagi mereka yang merasa masih ada harapan, terus berjuang seraya mengharapkan belas kasih dari Yang Maha Menolong. Begitu mereka yakin akan adanya pertolongan Allah, maka mereka seakan seperti mendengar adanya panggilan ilahi dan terus berjuang hingga selamat keluar dari gelombang tersebut

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mus.aceh/ada-apa-di-dalam-museum-tsunami-aceh_551229d4a33311f056ba7ecb
Begitu masuk di dalam, anda serasa memasuki lorong gelap gelombang tsunami dengan ketinggian 40 meter dengan efek air jatuh. Hati-hati dengan kepala anda, siapkan topi lebar agar rambut dan baju anda tidak basah. Bagi yang takut gelap dan masih phobia dengan tsunami, tidak disarankan untuk masuk dari jalur ini. Setelah melewati tempat ini, puluhan standing screen menyajikan foto-foto pasca tsunami berupa kerusakan dan kehancuran serta kematian, yang penuh dengan gambar korban dan gambar pertolongan terhadap mereka.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mus.aceh/ada-apa-di-dalam-museum-tsunami-aceh_551229d4a33311f056ba7ecb



dari museum Tsunami Aceh

Museum Tsunami Aceh


TRANSPORTASI

Setiap harinya, ada dua kali jadwal kapal cepat Speedboat dan sekali kapal Feri lambat berangkat dari Banda Aceh melalui pelabuhan Ulee Lheueke menuju Pelabuhan Balohan, Sabang. Feri kapal cepat berangkat sekitar pukul 09.30 WIB dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Untuk feri lambat, menghabiskan waktu sekitar 2 jam dengan jam keberangkatan 10.30 WIB. Untuk jalur darat, anda bisa juga menggunakan minibus umum untuk menuju ke Pantai Iboih sekitar 1 jam perjalanan dengan kondisi jalan yang sudah beraspal. Untuk menuju Pulau Rubiah, anda bisa menyewa boat ke Rubiah dengan waktu tempuh sekitar 20 menit. (Sebaiknya cari tahu jadwal keberangkatan kapal penyebrangan terlebih dahulu karna jadwal bisa berubah.)

Museum Tsunami Aceh - Jika Anda menggunakan Labi-Labi (angkot) Anda bisa menggunakan labi-labi nomer 05 jurusan Terminal Punge-Ulee Lheu. Anda bisa menemukan labi-labi, di pangkalan yang berada di Terminal Keudah di dekat Masjid Agung Baiturrahman. Tarifnya sekitar Rp 4.000 per orang.








Rabu, 01 Februari 2017

Mengunjungi Rothenburg ob der Tauber, Germany.




Akhirnya kami tiba dikota kecil yang cantik ini di pertengahan bulan Desember tahun lalu dengan diantar uncle Jerry mengendarai mobil. Untuk menuju kota tua ini bisa dengan kereta api maupun bis. Melalui gerbang Rödertor yang merupakan satu dari 42 pintu masuk ke kota tua. Rothenburg ob der Tauber, Germany - bisa diterjemahkan sebagai benteng merah di atas Sungai Tauber.




 
Hari masih pagi menjelang siang, tetapi udara masih terasa dingin saat itu. Setelah mobil parkir di area parkir yang tidak jauh dari gerbang masuk, kami langsung menuju tembok benteng merah yang mengelilingi kota tua Rothenburg. Dindin tembok dihiasi atap genteng dan kayu yang usang namun masih terawat dan beberapa menara tua layaknya didalam cerita dongeng. Kami menyelusuri jalan kecil sambil menikmati suasana kota dari atas tembok, sekali-kali kami harus menepi untuk memberi jalan pengunjung lain yang melintas.



Menara tua diantara dinding tembok Merah, Rothenburg


Melangkahkan kaki ke jantung kota dan disambut tembok benteng menjulang dan panjang, seolah melontarkan kita dengan mesin waktu ke abad yang berbeda. Menikmati pemandangan disekitar tembok yang mengelilingi kota tua tersebut terlihat rumah-rumah dan mobil-mobil seperti miniatur. Lanskap kota secara utuh pun bisa diabadikan tanpa terhalang pohon pinus, menara, atau atap rumah. Jika pengunjung ramai, setiap orang hanya diijinkan berada di atas menara selama 10 menit.
 

Tangga menuju tembok merah



 

Lintasan jalan diantara Menara Tua, Tembok Merah - Rothenburg


Jika anda berkesempatan berkunjung ke kota tua ini, salah satu aktivitas yang wajib dicoba adalah memanjat tangga dan berjalan menelusuri lorong sempit di atas benteng yang mengular sepanjang 3,5 KM. Sepanjang mata memandang, bangunan bergaya Renaissance yang klasik dan indah menghadap seluruh kota tua, kita bisa nikmati dari dek observasi.


View disaat melintasi tembok merah



bentuk rumahnya unik seperti cerita dalam dongeng ya...



Rothenburg ob der Tauber berada di ketinggian 434 M adalah salah satu kota abad pertengahan yang masih melestarikan keaslian bangunan dan tata kota yang mulai didirikan sejak tahun 970. Dengan menjaga keasrian arsitektur kuno dengan warna dominan genteng berwarna merah kecokelatan menjadi ciri khas setiap bangunan yang dilindungi benteng kota tua itu. Konon katanya, untuk mempertahankan ciri khas abad pertengahan, warga tidak diperkenankan merenovasi atau membangun gedung baru sembarangan. Warna, bentuk, dan desain eksterior bangunan perlu mendapat persetujuan dari dewan kota.

Dengan lalu lintas yang terbatas, jalan-jalan berbatu, bangunan yang sangat tua dan banyak juga restoran dan toko-toko cendera mata dengan bangunan yang klasik. Meski demikian, di luar wilayah Rothenburg yang dikelilingi benteng ini, rumah-rumah modern bersanding dengan pusat perbelanjaan, restoran, sekolah, rumah sakit, dan penginapan masa kini yang gayanya bisa disesuaikan preferensi pribadi.





Bagaikan mimpi bisa mampir ke kota ini, Rothenburg ob der Tauber kota yang berada di district Ansbach Mittelfranken, Bavaria - Germany ini sangat indah! Walau hanya 4 jam kami menikmati keindahan kota ini - terburu-buru (itu pasti!) karna kami harus melanjutkan perjalanan menuju Berlin di sore harinya. Keindahan dan uniknya kota ini sungguh tak terlupakan, sepertinya tinggal di kota kecil bak negeri dongeng ini tentu membuat siapapun betah, apapun yang kita lakukan disana bahkan hanya duduk-duduk di cafe pinggir jalan sambil memandang orang-orang hilir mudik pun menyenangkan.

Pesona keindahan kota tua ini sudah banyak mengihiasi kartu pos. Banyak pengunjung menuju ke persimpangan kecil ini dengan kamera mereka untuk membuat versi digital mereka sendiri. Melihat Kobolzell tower dan rumah-rumah kediaman menawan yang menyerupai seukuran rumah kue jahe tentu membuat latar belakang abad pertengahan yang sempurna.





Live the poscard dream and take a visit to beautiful Rothenberg

Rothenburg Oldtown, Germany

Sebelum kami meninggalkan kota yang cantik ini, kami sempat menikmati makan siang bersama di restoran Chinese yang berada di tengah kota Rothenburg. I was lucky to get a chance to visit the Christmas Market on the Christmas month of December. 




Suasana Christmas Mart di Rothenburg square




Jajanan ala Rothenburg

Dinamika pariwisata kota Rothenburg mengundang warganya untuk berprofesi sebagai pengelola penginapan, rumah makan, perkebunan anggur, atau pemandu wisata. Namun, banyak juga yang mencari rejeki sebagai pekerja pabrik, khususnya produsen meja dapur dan oven. Tinggal di kota kecil bak negeri dongeng tentu membuat siapapun betah, apapun pekerjaan yang dijalani.






 
Ya, memang lebih baik setidaknya mengeksplorasi kota yang indah ini sehari penuh, bahkan lebih baik bisa tinggal satu atau dua malam! Sehingga kita bisa merasakan ketenangan dan damainya di malam hari setelah semua wisatawan telah meninggalkan kota.

This town is magical and very well preserved and it's easy to imagine daily life behind the walls in the 12th and later centuries. Simply beautiful!