LIVE IS AN ADVENTURE

LIVE IS AN ADVENTURE

I think by traveling you can better appreciate yourself and the different cultures of the world... Enjoy life all around the world. To share with many people with different way of living. To love. To dance with the birds and sing with the wind....

Travelling brings color to my life. I'm travelling for the joy...
"...there is a difference between knowing the path and walking the path" - Morpheus

I am not good at writing but I want to share the adventure in my journey, but I have a lot of photo trips. Let the pictures are going to tell you about this trip ;)

Not only for the destinations, but it's about the journeys...
when you are traveling the time should be yours.

Some in my blog is using Indonesian, If you do not understand Indonesian you can use "Google Translate" at the top left of this blog. I hope this blog can be useful ...


GOOGLE Translate

Minggu, 23 Oktober 2016

Tenryu-ji Temple in Autumn





Tenryu-ji Temple yang berada di sebelah barat kota Kyoto yang berada di Arashiyama district. Dari Kyoto Station, Arashiyama dapat dicapai dengan menggunakan bus ataupun kereta api. Kami sudah memiliki JR Pass jadi dari Kyoto Station kami naik kereta JR Sanin Main Line arah Kameoka (platform 33) dan turun di Saga Arashiyama Station. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 45 menit dimulai saat keluar dari hostel. Enaknya jalan di musim gugur, walaupun cuaca cerah hawa masih terasa dingin jadi walaupun berjalan jauh tidak terasa capeknya. Apalagi di sepanjang jalan banyak toko-toko penjual makanan dan souvenir yang kemasan atau displaynya menarik hati. Saya sempat membeli buah kesemek yang dijual dipinggir jalan, seger dan murah. Petualangan dimulai, saya memilih untuk jalan kaki karena ingin melihat setiap lekuk keindahan Arashiyama lebih dekat.




Tenryu-ji Temple adalah salah satu kuil Zen yang menduduki peringkat 5 besar kuil Zen di Arashiyama - Kyoto. Taman yang terdapat di halaman kuil ini merupakan peninggalan tradisi aristokrat Jepang dengan kebudayaan Zen, taman ini mampu menampilkan keindahan 4 musim setiap tahunnya yaitu musim semi, musim panas, musim gugur dan di musim dingin di Jepang. Dan saya saat itu menikmati taman disaat musim gugur. Untuk tiket masuk dikenakan 500 Yen.

Menurut saya, tatanan di kuil ini dari halaman, taman, dan kayu-kayu penyusun kuil memberikan efek yang menenangkan dan juga menyegarkan mata. Betah berlama-lama berada di kuil ini, bila melupakan faktor berdesakan dengan banyaknya pengunjung yang lain.




Pemandangan Tenryu-ji Temple terdiri dari dua bukit Kame-yama dan Arashi-yama yang keduanya terletak di luar taman, merupakan bagian dari komposisi. Dengan pemandangan sekitarnya dalam desain taman dikenal sebagai shakkei. Batu di sebuah bukit di belakang kolam melambangkan sungai gunung yang mengalir hingga ke dalam kolam. Ada juga batu yang melambangkan ikan mas yang berasal dari dongeng tradisional Cina di mana ikan mas berenang sampai air terjun untuk mengalahkan Naga. Taman yang berada di halaman temple itu dirancang oleh seorang guru dan juga tukang kebun yaitu Muso Soseki, taman ini  dianggap salah satu yang paling indah dari semua taman Jepan.  Dari Tenryu-ji Temple kami berjalan lagi menuju ke Bamboo Grooves! Semuanya dalam satu kawasan, jadi tidak susah mencari kawasan yang rimbun bambu, just follow the flow pasti ketemu.




Begitu banyak spot menarik yang bisa diabadikan saat melancong ke Arasiyama di Kyoto. Rasanya tak bisa lepas dari kamera! Menghabiskan waktu di Tenryu-ji Temple memang tepat. Jangan lupa membawa minuman dan cemilan sambil menikmati kedamaian taman Zen... tapi jangan lupa sampahnya dibuang pada tempat sampah atau disimpan ditas/ransel jika tidak ada disekitar yaa...  Happy traveling!








Jumat, 19 Agustus 2016

Pesona Gunung Prau, Dieng




Petualangan kali ini tidak kami rencanakan, berlangsung begitu saja. Berawal dari seorang teman Relly namanya yang menceritakan keindahan Dataran Tinggi Dieng. Akhir pekan yang lalu pada tanggal 29-31 Juli, kami berempat (Relly, Jenny, Jul dan saya) berpetualangan ke Dieng dengan tujuan utama ingin melihat sunrise dari atas Gunung Prau yang sudah tekenal akan keindahannya dan menjadi salah satu tujuan favorit para petualang ketika mengunjungi Dataran Tinggi Dieng. Secara geografis, Dieng masuk ke dalam wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo - Jawa Tengah yang belakangan ini menjadi primadona baru bagi wisatawan.

Jam 08 pagi kami tiba di Dieng dan langsung mengexplore wisata Dieng sebelum mendaki Gunung Prau. Kami sempat mengunjungi Candi Arjuna, Kawah Sikidang dan menikmati keindahan alam Telaga Warna dari Bukit Batu Pandang. Semangat mengalahkan rasa lelah, setelah kami menikmati makan siang, kami lanjut menuju basecamp untuk registrasi pendakian Gunung Prau.





Jalur pendakian Gunung Prau sudah banyak di kenal. Kami mengambil jalur pendakian lewat Dieng, jalur ini medannya lebih bersahabat, namun dengan jarak yang lebih jauh sekitar 4 jam perjalanan santai yang kami lalui. Pertama, kita harus lapor di basecamp yang berlokasi di depan kantor kelurahan, berdiri tepat disekitar pertigaan Dieng. Untuk retribusi camping kami dikenakan biaya Rp10.000 per orang.

Setelah berberes dan menitipkan baju-baju di pos basecamp Dieng (karena kami hanya membawa barang yang diperlukan saja seperti sarung, jaket dan topi kupluk serta sarung tangan untuk kami bawa) kami langsung melanjutkan perjalanan agar tidak kemalaman dijalan. Dari basecamp Dieng kami berangkat sekitar jam 13.30 siang menuju Pos Satu kurang lebih satu jam perjalanan, diawali melewati hamparan perkebunan kentang dan wortel ladang penduduk, jalanan setapak masih agak landai, medan tanah bebatuan. Setelah berjalan agak lama sedikit menanjak dan akhirnya sampailah kita di Pos Satu.



Pemandangan lembah disepanjang perjalanan, G. Prau

Sepanjang trek perjalanan kita akan berjumpa dengan pemandangan yang indah. Pos Satu adalah batas antara ladang penduduk dengan kawasan hutan Gunung Prau, jalanan berupa tanah liat, di pos ini kita akan menemui sebuah pertigaan, untuk menuju puncak kita harus berbelok kekanan pada jalanan yang sedikit menanjak, setelah itu perjalanan masih berlanjut melalui hutan-hutan pinus, setelah sekitar empat puluh lima menit berjalan, sampailah kita di Pos Dua.


Jalur Dieng tracking menuju puncak Gunung Prau


Pos Dua, sepanjang perjalanan kita menyelusuri pinggiran bukit dan jalan menuju bukit lainnya yang dihiasi awan-awan yang memenuhi lembah jurang bagai berjalan diatas awan. Perjalanan berlanjut melintasi hutan-hutan pinus, batang-batang pohon seperti berbaris menghalangi jalan. Berjalan ditengah hutan ini sangatlah menyenangkan, adem dan bisa melihat bunga-bunga liar berwarna-warni disepanjang jalan setapak tetapi hati-hati banyak akar-akar pinus yang menyembul dipermukaan, selain itu deretan pinus yang tumbuh dihutan ini sangatlah indah.


Bunga Daisy dari Gunung Prau, Dieng



Hutan Gunung Prau termasuk dalam kategori hutan teknokarp khas hutan hujan, didominasi pinus serta tumbuhan bergetah seperti cemara, karet, dan damar, selain itu ada banyak tanaman perdu yang menyelimuti dasar hutan prau seperti bermacam jenis anggrek, sedangkan pada sabana Prau didominasi semak belukar, rumput ilalang. Sekitar empat puluh lima menit kemudian, sampailah kita di Pos Tiga.

Perjalanan masih naik melintasi beberapa tanjakan setelah sekitar lima puluh menit berjalan sampailah kita di sebuah pertigaan, nampak kejauhan terlihat tower repeater. Kemudian turun, lalu lurus menuruni punggungan bukit maka kita akan mendapati sebuah pertigaan, kalau ke kanan dan menuruni lereng tebing. Dari atas tebing ini kita bisa melihat pemandangan Dataran Tinggi Dieng, hutan pinus, perkebunan kentang, dan Telaga Warna dari kejauhan.





Setibanya di Pos Empat kita akan disambut oleh Bukit Teletubies dan hamparan padang bunga Daisy. Lembah berkabut menyusuri bukit hingga hamparan taman bunga daisy dan sampai di area camping ground Gunung Prau kita akan disambut oleh bukit Teletubies. Apabila ingin menuju puncak Gunung Prau yang berupa sepetak tanah lapang memanjang dengan ketinggian 2.565 mdpl,  kita masih harus melanjutkan perjalanan menaiki bukit, lalu melintasi hamparan savana sekitar 10 menit berjalan. Untuk dapat menikmati keindahan savana bukit teletubies yang dipenuhi bunga-bunga Daisy yang bermekaran, saya sarankan mendaki pada musim-musim kemarau, antara bulan Juni - Agustus.



Padang bunga Daisy di atas Gunung Prau, Dieng

Hari sudah sore, matahari sudah mulai turun. Sinar emasnya menyelimuti hamparan rumput-rumput savana dan bunga-bunga daisy. Sunset sore itu sempurna! ^_^  Warna-warni tenda terlihat menyebar di hamparan bukit. Para pendaki cukup ramai, ada yang sedang bercengkrama sambil memasak untuk makan malam, ada yang sibuk mengabadikan sunset, dan kami pun juga sibuk mendirikan tenda tempat kami beristirahat malam itu, memasak air untuk membuat minuman hangat serta menyiapkan makan malam yang telah kami beli dari warung makan saat sebelum pendakian.


saat sang surya tenggelam... dari atas Gunung Prau, Dieng

Langit yang cerah berhiaskan kelap kelip bintang seperti dekat dan banyak sekali.... tetapi dinginnya malam membuat kami tak lama diluar tenda dan segera tidur karna tak sabar menanti pagi.


Sunrise dari Gunung Prau, Dieng
Menikmati sunrise dari atas Gunung Prau, Dieng



Esok paginya.... jreng jreng jeeeeng... sunrise indah yang kami nanti-nanti akhirnya muncul menghiasi langit pagi. Dari area tenda kami bisa menikmati pesona keindahan sunrise dengan background gunung Sindoro-Sumbing, Merapi-Merbabu, Telomoyo, Andong, Ungaran bahkan gunung Lawu. Pemandangan yang sangat indah dan tidak ada duanya. Untuk dapat menikmati sunrise dari savana Prau ini, saya sarankan untuk mendaki pada musim-musim kemarau, karena pada saat musim penghujan, cuaca cenderung berkabut di pagi hari. Pemandangan sunrise dari Gunung Prau pun akan jauh lebih menarik saat langit tidak tertutup mendung.






Udara dingin yang memeluk tubuh dan menusuk tulang, tak menghalangi kami untuk keluar dari tenda dan menikmati momen sunrise Gunung Prau yang terkenal itu. Keindahannya sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Saat bisa melihat golden sunrise, rasanya semua kelelahan mendaki terbayar lunas. Kamu nggak akan menyesal jika mendaki Gunung Prau!




Foto-foto yang kami ambil pun rasanya tak mampu menangkap segala keindahan yang mampu ditangkap oleh mata. Untuk tahu seindah apa sunrise dan pemandangan Gunung Prau, kamu harus datang sendiri dan buktikan kebenarannya. Berikut foto-foto yang kami ambil saat mencoba mengabadikan momen sunrise dan keindahan yang tersaji pada pagi yang cerah di Gunung Prau. Akhirnya, setelah puas berfoto-ria, kami sarapan sebentar, dilanjut dengan membereskan tenda dan packing semua peralatan ke dalam ransel, bersiap-siap untuk perjalanan pulang.

Kami tiba di basecamp Dieng sekitar jam 11.00 siang dan segera berberes karena kami harus segera balik menuju Purwokerto yang cukup lama sekitar 4 jam perjalanan dengan kondisi tidak macet. Saat itu hari Minggu yang biasanya lalu lintas pasti ramai dan tidak bisa diprediksi, kami tidak ingin mengambil risiko dengan ketinggalan kereta yang sudah kami booking dari Jakarta. Dan akhirnya kami sampai di stasiun Purwokerto jam 16.00 sore sedangkan jadwal keberangkatan kereta kami jam 16.25 sore, itu berarti kami masih bisa beristirahat sambil makan sore di warung dekat stasiun dengan menu gulai kambing dan sate kambing yang ternyata nDess rasanya. ^_^



 

Waktu yang tepat untuk mengunjungi Gunung Prau adalah di musim kemarau. Saat jarang turun hujan dimana jalur pendakian cenderung kering tidak becek, serta akan jauh lebih mudah mencari lokasi yang strategis dengan kondisi tanah yang bersahabat sebagai areal camping ground. Kita juga dapat menikmati keindahan savana bukit teletubies yang dipenuhi bunga Daisy yang bermekaran yaitu antara bulan Juni - Agustus.

Petualangan kali ini, kami meminta bantuan mas Teguh dari DiengAsik untuk mengatur petualangan kami dari penyewaan mobil, peralatan camping hingga merekomendasikan seorang guide sekalian porter untuk menemani kami hingga ke puncak Gunung Prau yaitu dengan mas Genjie nama panggilannya. Genjie yang selalu ceria, sabar dan juga memberi ide-ide unik untuk berfoto narsis yang hasilnya keren semua potonya hehehe... thanks Genjie!




O iya, Dataran Tinggi Dieng terkenal dengan suhu dingin yang menusuk tulang apalagi berada di puncak Gunung Prau, oleh sebab itu persiapkan segalanya terlebih dahulu sebelum berangkat. Yang terpenting jaket yang hangat, sarung tangan, topi kupluk dan perlengkapan lain tentunya. Selain itu jangan lupa juga untuk membawa pelembab seperti cream wajah, lotion, dan lip balm. Udara yang dingin bisa menyebabkan kulit badan dan bibirmu kering atau bahkan mengelupas. Jadi inget seorang teman yang membawa "kertas cantik" membuat kita langsung cantik secara instan karna setelah memakainya saya seperti memakai bedak dan "sampo instan" tanpa air yang hasilnya rambut seperti kena debu bedak huahaha.... thanks Lidia Jenny! Lumayan buat poto-poto cantik diantara bunga daisy.  ^_^

Dieng kini tak pernah sepi, selalu ada keelokan yang bisa dinikmati jika berkunjung ke sini dan memang menggoda untuk dijelajahi tiap jengkalnya.


“I like the mountains because they make me feel small.'
'They help me sort out what's important in life.”Mark Obmascik.


Cerita lain:



Bunga Daisy dari puncak Gunung Prau, Dieng