LIVE IS AN ADVENTURE

LIVE IS AN ADVENTURE

I think by traveling you can better appreciate yourself and the different cultures of the world... Enjoy life all around the world. To share with many people with different way of living. To love. To dance with the birds and sing with the wind....

Travelling brings color to my life. I'm travelling for the joy...
"...there is a difference between knowing the path and walking the path" - Morpheus

I am not good at writing but I want to share the adventure in my journey, but I have a lot of photo trips. Let the pictures are going to tell you about this trip ;)

Not only for the destinations, but it's about the journeys...
when you are traveling the time should be yours.

Some in my blog is using Indonesian, If you do not understand Indonesian you can use "Google Translate" at the top left of this blog. I hope this blog can be useful ...


GOOGLE Translate

Jumat, 19 Agustus 2016

Pesona Gunung Prau, Dieng




Petualangan kali ini tidak kami rencanakan, berlangsung begitu saja. Berawal dari seorang teman Relly namanya yang menceritakan keindahan Dataran Tinggi Dieng. Akhir pekan yang lalu pada tanggal 29-31 Juli, kami berempat (Relly, Jenny, Jul dan saya) berpetualangan ke Dieng dengan tujuan utama ingin melihat sunrise dari atas Gunung Prau yang sudah tekenal akan keindahannya dan menjadi salah satu tujuan favorit para petualang ketika mengunjungi Dataran Tinggi Dieng. Secara geografis, Dieng masuk ke dalam wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo - Jawa Tengah yang belakangan ini menjadi primadona baru bagi wisatawan.

Jam 08 pagi kami tiba di Dieng dan langsung mengexplore wisata Dieng sebelum mendaki Gunung Prau. Kami sempat mengunjungi Candi Arjuna, Kawah Sikidang dan menikmati keindahan alam Telaga Warna dari Bukit Batu Pandang. Semangat mengalahkan rasa lelah, setelah kami menikmati makan siang, kami lanjut menuju basecamp untuk registrasi pendakian Gunung Prau.





Jalur pendakian Gunung Prau sudah banyak di kenal. Kami mengambil jalur pendakian lewat Dieng, jalur ini medannya lebih bersahabat, namun dengan jarak yang lebih jauh sekitar 4 jam perjalanan santai yang kami lalui. Pertama, kita harus lapor di basecamp yang berlokasi di depan kantor kelurahan, berdiri tepat disekitar pertigaan Dieng. Untuk retribusi camping kami dikenakan biaya Rp10.000 per orang.

Setelah berberes dan menitipkan baju-baju di pos basecamp Dieng (karena kami hanya membawa barang yang diperlukan saja seperti sarung, jaket dan topi kupluk serta sarung tangan untuk kami bawa) kami langsung melanjutkan perjalanan agar tidak kemalaman dijalan. Dari basecamp Dieng kami berangkat sekitar jam 13.30 siang menuju Pos Satu kurang lebih satu jam perjalanan, diawali melewati hamparan perkebunan kentang dan wortel ladang penduduk, jalanan setapak masih agak landai, medan tanah bebatuan. Setelah berjalan agak lama sedikit menanjak dan akhirnya sampailah kita di Pos Satu.



Pemandangan lembah disepanjang perjalanan, G. Prau

Sepanjang trek perjalanan kita akan berjumpa dengan pemandangan yang indah. Pos Satu adalah batas antara ladang penduduk dengan kawasan hutan Gunung Prau, jalanan berupa tanah liat, di pos ini kita akan menemui sebuah pertigaan, untuk menuju puncak kita harus berbelok kekanan pada jalanan yang sedikit menanjak, setelah itu perjalanan masih berlanjut melalui hutan-hutan pinus, setelah sekitar empat puluh lima menit berjalan, sampailah kita di Pos Dua.


Jalur Dieng tracking menuju puncak Gunung Prau


Pos Dua, sepanjang perjalanan kita menyelusuri pinggiran bukit dan jalan menuju bukit lainnya yang dihiasi awan-awan yang memenuhi lembah jurang bagai berjalan diatas awan. Perjalanan berlanjut melintasi hutan-hutan pinus, batang-batang pohon seperti berbaris menghalangi jalan. Berjalan ditengah hutan ini sangatlah menyenangkan, adem dan bisa melihat bunga-bunga liar berwarna-warni disepanjang jalan setapak tetapi hati-hati banyak akar-akar pinus yang menyembul dipermukaan, selain itu deretan pinus yang tumbuh dihutan ini sangatlah indah.


Bunga Daisy dari Gunung Prau, Dieng



Hutan Gunung Prau termasuk dalam kategori hutan teknokarp khas hutan hujan, didominasi pinus serta tumbuhan bergetah seperti cemara, karet, dan damar, selain itu ada banyak tanaman perdu yang menyelimuti dasar hutan prau seperti bermacam jenis anggrek, sedangkan pada sabana Prau didominasi semak belukar, rumput ilalang. Sekitar empat puluh lima menit kemudian, sampailah kita di Pos Tiga.

Perjalanan masih naik melintasi beberapa tanjakan setelah sekitar lima puluh menit berjalan sampailah kita di sebuah pertigaan, nampak kejauhan terlihat tower repeater. Kemudian turun, lalu lurus menuruni punggungan bukit maka kita akan mendapati sebuah pertigaan, kalau ke kanan dan menuruni lereng tebing. Dari atas tebing ini kita bisa melihat pemandangan Dataran Tinggi Dieng, hutan pinus, perkebunan kentang, dan Telaga Warna dari kejauhan.





Setibanya di Pos Empat kita akan disambut oleh Bukit Teletubies dan hamparan padang bunga Daisy. Lembah berkabut menyusuri bukit hingga hamparan taman bunga daisy dan sampai di area camping ground Gunung Prau kita akan disambut oleh bukit Teletubies. Apabila ingin menuju puncak Gunung Prau yang berupa sepetak tanah lapang memanjang dengan ketinggian 2.565 mdpl,  kita masih harus melanjutkan perjalanan menaiki bukit, lalu melintasi hamparan savana sekitar 10 menit berjalan. Untuk dapat menikmati keindahan savana bukit teletubies yang dipenuhi bunga-bunga Daisy yang bermekaran, saya sarankan mendaki pada musim-musim kemarau, antara bulan Juni - Agustus.



Padang bunga Daisy di atas Gunung Prau, Dieng

Hari sudah sore, matahari sudah mulai turun. Sinar emasnya menyelimuti hamparan rumput-rumput savana dan bunga-bunga daisy. Sunset sore itu sempurna! ^_^  Warna-warni tenda terlihat menyebar di hamparan bukit. Para pendaki cukup ramai, ada yang sedang bercengkrama sambil memasak untuk makan malam, ada yang sibuk mengabadikan sunset, dan kami pun juga sibuk mendirikan tenda tempat kami beristirahat malam itu, memasak air untuk membuat minuman hangat serta menyiapkan makan malam yang telah kami beli dari warung makan saat sebelum pendakian.


saat sang surya tenggelam... dari atas Gunung Prau, Dieng

Langit yang cerah berhiaskan kelap kelip bintang seperti dekat dan banyak sekali.... tetapi dinginnya malam membuat kami tak lama diluar tenda dan segera tidur karna tak sabar menanti pagi.


Sunrise dari Gunung Prau, Dieng
Menikmati sunrise dari atas Gunung Prau, Dieng



Esok paginya.... jreng jreng jeeeeng... sunrise indah yang kami nanti-nanti akhirnya muncul menghiasi langit pagi. Dari area tenda kami bisa menikmati pesona keindahan sunrise dengan background gunung Sindoro-Sumbing, Merapi-Merbabu, Telomoyo, Andong, Ungaran bahkan gunung Lawu. Pemandangan yang sangat indah dan tidak ada duanya. Untuk dapat menikmati sunrise dari savana Prau ini, saya sarankan untuk mendaki pada musim-musim kemarau, karena pada saat musim penghujan, cuaca cenderung berkabut di pagi hari. Pemandangan sunrise dari Gunung Prau pun akan jauh lebih menarik saat langit tidak tertutup mendung.






Udara dingin yang memeluk tubuh dan menusuk tulang, tak menghalangi kami untuk keluar dari tenda dan menikmati momen sunrise Gunung Prau yang terkenal itu. Keindahannya sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Saat bisa melihat golden sunrise, rasanya semua kelelahan mendaki terbayar lunas. Kamu nggak akan menyesal jika mendaki Gunung Prau!




Foto-foto yang kami ambil pun rasanya tak mampu menangkap segala keindahan yang mampu ditangkap oleh mata. Untuk tahu seindah apa sunrise dan pemandangan Gunung Prau, kamu harus datang sendiri dan buktikan kebenarannya. Berikut foto-foto yang kami ambil saat mencoba mengabadikan momen sunrise dan keindahan yang tersaji pada pagi yang cerah di Gunung Prau. Akhirnya, setelah puas berfoto-ria, kami sarapan sebentar, dilanjut dengan membereskan tenda dan packing semua peralatan ke dalam ransel, bersiap-siap untuk perjalanan pulang.

Kami tiba di basecamp Dieng sekitar jam 11.00 siang dan segera berberes karena kami harus segera balik menuju Purwokerto yang cukup lama sekitar 4 jam perjalanan dengan kondisi tidak macet. Saat itu hari Minggu yang biasanya lalu lintas pasti ramai dan tidak bisa diprediksi, kami tidak ingin mengambil risiko dengan ketinggalan kereta yang sudah kami booking dari Jakarta. Dan akhirnya kami sampai di stasiun Purwokerto jam 16.00 sore sedangkan jadwal keberangkatan kereta kami jam 16.25 sore, itu berarti kami masih bisa beristirahat sambil makan sore di warung dekat stasiun dengan menu gulai kambing dan sate kambing yang ternyata nDess rasanya. ^_^



 

Waktu yang tepat untuk mengunjungi Gunung Prau adalah di musim kemarau. Saat jarang turun hujan dimana jalur pendakian cenderung kering tidak becek, serta akan jauh lebih mudah mencari lokasi yang strategis dengan kondisi tanah yang bersahabat sebagai areal camping ground. Kita juga dapat menikmati keindahan savana bukit teletubies yang dipenuhi bunga Daisy yang bermekaran yaitu antara bulan Juni - Agustus.

Petualangan kali ini, kami meminta bantuan mas Teguh dari DiengAsik untuk mengatur petualangan kami dari penyewaan mobil, peralatan camping hingga merekomendasikan seorang guide sekalian porter untuk menemani kami hingga ke puncak Gunung Prau yaitu dengan mas Genjie nama panggilannya. Genjie yang selalu ceria, sabar dan juga memberi ide-ide unik untuk berfoto narsis yang hasilnya keren semua potonya hehehe... thanks Genjie!




O iya, Dataran Tinggi Dieng terkenal dengan suhu dingin yang menusuk tulang apalagi berada di puncak Gunung Prau, oleh sebab itu persiapkan segalanya terlebih dahulu sebelum berangkat. Yang terpenting jaket yang hangat, sarung tangan, topi kupluk dan perlengkapan lain tentunya. Selain itu jangan lupa juga untuk membawa pelembab seperti cream wajah, lotion, dan lip balm. Udara yang dingin bisa menyebabkan kulit badan dan bibirmu kering atau bahkan mengelupas. Jadi inget seorang teman yang membawa "kertas cantik" membuat kita langsung cantik secara instan karna setelah memakainya saya seperti memakai bedak dan "sampo instan" tanpa air yang hasilnya rambut seperti kena debu bedak huahaha.... thanks Lidia Jenny! Lumayan buat poto-poto cantik diantara bunga daisy.  ^_^

Dieng kini tak pernah sepi, selalu ada keelokan yang bisa dinikmati jika berkunjung ke sini dan memang menggoda untuk dijelajahi tiap jengkalnya.


“I like the mountains because they make me feel small.'
'They help me sort out what's important in life.”Mark Obmascik.


Cerita lain:



Bunga Daisy dari puncak Gunung Prau, Dieng










Selasa, 16 Agustus 2016

DIENG, for Weekend getaway!




Kawasan dataran tinggi Dieng, yang secara geografis masuk ke dalam wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo ini belakangan jadi primadona baru bagi wisatawan. Dieng kini tak pernah sepi, selalu ada keelokan yang bisa dinikmati jika berkunjung ke sini dan memang menggoda untuk dijelajahi tiap jengkalnya.

Petualangan kali ini tidak direncanakan, berlangsung begitu saja. Berawal dari seorang teman yang menceritakan keindahan dataran tinggi Dieng. Akhir pekan yang lalu di bulan Juli kami berempat berpetualangan ke Dieng.




Petualangan Dieng relatif mudah dilakukan, baik dengan kendaraan pribadi atau sewaan maupun dengan kendaraan umum. Kalo yang praktis sih naik kendaraan sewaan karena kamu nggak perlu repot gonta-ganti angkutan menuju spot wisata Dieng. Tapi kalo mau naik kendaraan umum juga bisa karena angkutan umum ke Dieng banyak tersedia. Kami naik kereta api dari Jakarta dengan jurusan Purwokerto dengan mengambil tiket kelas executive dan tiket kelas Ekonomi untuk kereta balik Purwokerta - Jakarta. Dimulai pada hari Jumat malam setelah selesai pekerjaan kantor kami berangkat dengan menggunakan kereta api dengan total biaya pulang-pergi sebesar Rp 500.000. Dari Stasiun Gambir Jakarta jam 22.00 malam sampai di stasiun Purwokerto sekitar jam 03.30 pagi dan balik dari Dieng hari minggu sore tiba di stasiun Purwokerto pukul 16.00 menuju Jakarta dan saya turun di stasiun Bekasi tiba jam 21.00 malam.

Sesampainya di Purwokerto sudah subuh, lalu kami melanjutkan perjalanan dengan mobil yang telah kami sewa, dari stasiun Purwokerto ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam. O iya, kami sempat mampir di alun-alun Wonosobo untuk sarapan pagi. Seru juga! Di alun-alun pagi itu sudah ramai orang berolahraga dan juga jajanan pun banyak yang bisa kami cicipi sebelum melanjutkan perjalanan menuju Dieng.

Suhu di Dieng cukup dingin, jangan lupa membawa jaket tebal, sarung tangan dan penutup kepala ke dalam tas yang akan kamu bawa. Dinginnya udara Dieng seringkali harus membuatmu mendobel pakaian. Tujuan utama kami adalah ingin melihat sunrise dari atas gunung Prau yang terkenal akan keindahannya. Namun sebelum mendaki gunung Prau, kami berkesempatan mengunjungi spot-spot wisata Dieng antara lain:


A. CANDI  ARJUNA

Spot pertama yang kami kunjungi, Candi Arjuna. Dataran Tinggi Dieng memiliki kawasan candi yang sangat luas. Diperkirakan, candi-candi yang terdapat di kawasan ini menempati area seluas 90 hektare. Hanya saja, baru sebagian kecil dari candi-candi tersebut sudah selesai direstorasi. Dari sekian banyak candi yang ada Dataran Tinggi Dieng, kompleks Candi Arjuna merupakan yang terluas. Keberadaan candi ini sebagai objek wisata sukses menarik perhatian banyak wisatawan baik lokal ataupun mancanegara. Nah bagi kamu yang menggemari wisata sejarah wajib nih hukumnya datang ke Candi Arjuna yang super terkenal di Dieng tersebut. Tiket masuk ke area candi ini adalah sebesar Rp 10.000. Dengan tiket tersebut, kita dapat mendatangi Kompleks Candi Sendang Sedayu, Sedang Maerokoco, Dharmasala, serta Kawah Sikidang... dan kami hanya sempat mendatangi Kawah Sikidang.




Menurut sejarahnya, kompleks candi ini pertama kali ditemukan pada abad 18 oleh seorang tentara Belanda, Theodorf Van Elf. Saat pertama kali ditemukan, kondisi candi tergenang air. Upaya penyelamatan candi pertama kali dilakukan oleh HC Corneulius yang berkebangsaan Inggris sekitar 40 tahun setelah pertama kali candi ini ditemukan. Usahanya kemudian dilanjutkan oleh seorang berkebangsaan Belanda bernama J Van Kirnbergens.
 
Candi Arjuna, sebagai candi utama di kompleks ini diperkirakan sebagai candi tertua, diperkirakan dibangun pada abad 8 Masehi oleh Dinasti Sanjaya dari Mataram Kuno. Hal ini membuat kondisi kedua candi tersebut lebih rapuh dan rentan terhadap resiko runtuh atau rusak. Jadi sebagai wisatawan yang baik, penting buat kita untuk menjaga kelestarian Candi Arjuna dengan tidak naik ke atasnya atau duduk dan membuang sampah juga puntung rokok sembarangan. 



 

Candi Arjuna, Dieng

Kompleks Candi Arjuna merupakan bangunan suci bernama Dharmasala tempat para resi dan umat Hindu Jawa melakukan pemujaan kepada Dewa Siwa. Dan saat ini, Kompleks Candi Arjuna digunakan sebagai tempat pelaksanaan Ibadah Galungan. Selain itu, kompleks ini kadang juga digunakan sebagai tempat pelaksanaan ruwatan anak gimbal pada saat acara Festival Dieng Cultural yang dilaksanakan setiap tahunnya.

Uniknya tidak seperti candi-candi yang tersebar di Indonesia, candi ini tidak ada arca yang biasanya menghiasi bangunan candi. Saya hanya melihat ruang-ruang kosong yang biasanya dijadikan tempat meletakkan arca.

Perpaduan keindahan alam dan peninggalan bersejarah membuat Candi Arjuna semakin mempesona, dengan keindahan alam sekitar Candi Arjuna yang berbukit-bukit. Sambil memandangi kabut yang turun perlahan-lahan di siang hari, sayang sekali jika diabaikan begitu saja. Mengabadikan semua kecantikan panorama alam dan Candi Arjuna agar kita bisa mengingat dan membawa pulang kenangan untuk selamanya.






B. KAWAH  SIKIDANG

Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Kawah Sikidang, adalah kawah vulkanik yang sangat terkenal di kawasan Dieng. Hamparan tanah tandus dengan bau belerang yang menyengat di hidung. Nama Sikidang berasal dari bahasa jawa “Kidang” yang berarti “Kijang.” Kenapa kawah ini dinamakan demikian? sebab lava di kawah Sikidang kerap kali tampak bisa “meloncat” seperti kijang.


diantara kabut asap belerang, Sikidang -Dieng

Ada sebuah cerita legenda menarik dari Kawah Sikidang ini. Konon dahulu kala didataran tinggi Dieng ada sebuah istana yang di huni oleh ratu cantik bernama Ratu Shinta Dewi. Saat itu sang ratu akan dilamar oleh seorang pangeran tampan dan kaya raya. Akan tetapi ternyata pangeran itu tidaklah setampan yang di beritakan. Pangeran itu bernama Pangerang Kidang Garungan yang perwujudannya berupa manusia berkepala kijang.

Untuk menolak lamaran sang pangeran, maka ratu mengajukan syarat untuk dibuatkan sebuah sumur yang dalam dan luas. Saat sumur hampir selesai, sang ratu dan pengawalnya menimbun sumur dengan tanah yang didalamnya masih terdapat sang pangeran. Ketika sang pangeran berusaha keluar dengan mengerahkan segala kesaktiannya, tiba-tiba sumur itu menjadi panas, bergetar dan meledak-ledak. Pangeran hampir saja keluar dari sumur tersebut, akan tetapi sang ratu terus menimbun dengan tanah hingga sang pangeran tak dapat keluar. Sang pangeran akhirnya marah dan mengutuk Ratu Shinta Dewi dan keturunannya kelak akan berambut gembel. Bekas sumur Pangeran Kidang Garungan inilah yang kemudian menjadi Kawah Sikidang.




Luas kawah Sikidang sekitar 200 m2 terdapat pada tanah yang datar sehingga pengunjung dapat melihat secara dekat gumpalan-gumpalan lumpur kawah yang mendidih yang hanya dibatasi pagar kayu. Ada pedagang telur yang merebus telur langsung di kawah, kami sempat mencoba... rasanya sih tidak beda dengan telur rebus pada umumnya hehehe... untuk 1 butir telur ayam/bebek seharga Rp 5000,- Walau tampak eksotis, tidak disarankan untuk berlama-lama di daerah ini karena di kawah ini mengandung kadar belerang yang cukup tinggi sehingga bisa menganggu pernapasan. Jangan lupa menggunakan masker penutup hidung yaa...

Di Kawah Sikidang, kita bisa berfoto dengan latar belakang kepulan asap dari kawah dan putihnya pemandangan di sekeliling dan juga ada berbagai macam potobooth seperti berpoto diatas kuda, motor trail, sign LOVE, ada juga poto bareng burung hantu.... layaknya studio poto alam kita mesti membayar Rp 10.000 untuk merasakan masing-masing momen itu (tapi menurut saya ini terlalu banyak, membuat pemandangan tidak natural lagi). 





C. BUKIT  BATU  PANDANG

Telaga Warna adalah salah satu objek wisata paling terkenal di Dieng. Objek wisata ini menjadi sangat populer karena konon warna air di telaga ini bisa berubah-ubah: terkadang warnanya hijau, kuning, atau sewaktu-waktu menjadi warna pelangi. Perubahan warna pada telaga tersebut diduga karena kandungan sulfur yang sangat tinggi sehingga ketika terkena matahari membuat warna air di telaga berubah. Nah, untuk menyaksikan Telaga Warna dan Telaga Pengilon dari kejauhan, kita bisa lihat dari tempat yang lebih tinggi yaitu Bukit Batu Pandang. Menikmati pesona keindahan pemandangan dua telaga sekaligus dengan berbeda warna berdekatan yang hanya di batasi pepohonan lebat, begitu ciamik berpadu jika dilihat dari ketinggian.




Untuk menuju Bukit Batu Pandang kita membutuhkan waktu sekitar 10 menit perjalanan dari tempat parkir. Perjalanan agak menanjak tetapi kita akan lupa dengan kelelahan karena panorma alam yang disajikan sangat indah.

Warna dari Telaga Warna akan tampak kental dan pekat dengan warna dominan hijau saat siang hari tiba ketika sinar matahari penuh memantul ke permukaan air telaga. Disinilah di Bukit Batu Pandang kita dapat berpose dengan background lanscape utama Telaga Warna, Telaga Pengilon, Gunung Prau. Untuk menikmati kecantikan alam ini kita mesti membayar Rp.10.000 untuk tiket masuknya.






D. GUNUNG PRAU

Setelah kami menikmati makan siang, lanjut menuju base camp untuk registrasi pendakian Gunung Prau yang menjadi salah satu tujuan favorit para petualang ketika mengunjungi Dataran Tinggi Dieng. Gunung Prau dengan jalur yang tidak begitu sulit yaitu dengan ketinggian 2.565 mdpl, termasuk alam gunung dengan ketinggian sedang. Yang menjadi momen favorite di gunung Prau yaitu fenomena sunset dan sunrise-nya yang sangat indah!


pemandangan pagi dari atas Gunung Prau, Dieng

Untuk mendaki gunung Prau ada banyak jalur pendakian, selain sudah tersedia pos-pos pemantau pendaki, jalur nya pun sudah banyak di kenal. Kami mengambil jalur pendakian Dieng, jalur ini medannya lebih bersahabat, namun dengan jarak yang lebih jauh sekitar 4 jam perjalanan santai yang kami lalui.

Sepanjang trek perjalanan kita akan berjumpa dengan pemandangan yang indah. Diawali melewati perkebunan kentang dan wortel warga setempat, hutan pinus, lembah berkabut hingga hamparan taman bunga daisy dan sampai di puncak gunung Prau kita akan disambut oleh Bukit Teletubies. Matahari sudah mulai turun saat kami tiba di basecamp Prau, warna-warni tenda terlihat menyebar di hamparan bukit. Para pendaki cukup ramai, ada yang sedang bercengkrama sambil memasak untuk makan malam, ada yang sibuk mengabadikan sunset, dan kami pun juga sibuk mendirikan tenda tempat kami beristirahat malam itu yang cerah berhiaskan kelap kelip bintang yang banyak sekali di langit.... dinginnya malam membuat kami tak lama diluar tenda dan segera tidur karna tak sabar menanti pagi.


Sunrise diatas gunung Prau, Dieng

Esok paginya.... jeng jeng jeeeeng... sunrise indah yang kami nanti-nanti akhirnya muncul menghiasi langit pagi. Dari situ kita bisa melihat pucuk banyak gunung di pulau Jawa seperti gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Sindoro, Slamet. Wow..!! Udara dingin yang memeluk tubuh dan menusuk tulang, tak menghalangi kami untuk keluar dari tenda dan nikmati momen sunrise Gunung Prau yang terkenal itu. Keindahannya sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Saat bisa melihat golden sunrise, rasanya semua kelelahan mendaki terbayar lunas….. Akhirnya, setelah puas berfoto ria, kami sarapan sebentar, dilanjut dengan bereskan tenda dan packing semua peralatan ke dalam ransel, bersiap-siap untuk perjalanan pulang.

Foto-foto yang kami ambil pun rasanya tak mampu menangkap segala keindahan yang mampu ditangkap oleh mata. Untuk tahu seindah apa sunrise dan pemandangan Gunung Prau, kamu harus datang sendiri dan buktikan kebenarannya. Berikut foto-foto yang kami ambil saat mencoba mengabadikan momen sunrise dan keindahan yang tersaji pada pagi yang cerah di Gunung Prau.


Saat matahari sudah tenggelam dilihat dari atas Gunung Prau, Dieng

O iya, dataran tinggi Dieng terkenal dengan suhu dingin yang menusuk tulang oleh sebab itu persiapkan segalanya terlebih dahulu sebelum berangkat menuju sana. Yang terpenting jaket yang hangat, dan perlengkapan lain tentunya.





Kami nyampe di basecamp Dieng sekitar jam 11.00 siang dan segera berberes karena kami harus segera balik menuju Purwokerto yang cukup lama sekitar 4 jam perjalanan dengan kondisi tidak macet. Saat itu hari Minggu yang biasanya lalu lintas pasti ramai dan tidak bisa diprediksi, kami tidak ingin mengambil risiko dengan ketinggalan kereta yang sudah kami booking dari Jakarta. Dan akhirnya kami sampai di stasiun Purwokerto jam 16.00 sore sedangkan jadwal keberangkatan kereta kami jam 16.25 sore, itu berarti kami masih bisa beristirahat sambil makan sore di warung dekat stasiun dengan menu gulai kambing dan sate kambing yang ternyata nDess rasanya. ^_^

Petualangan kali ini, kami meminta bantuan mas Teguh dari DiengAsik untuk mengatur petualangan kami dari penyewaan mobil hingga merekomendasikan seorang guide untuk mengantar kami hingga ke puncak gunung Prau yaitu dengan mas Genjie nama panggilannya. Genjie yang selalu ceria, sabar dan juga memberi ide-ide unik untuk berfoto narsis yang hasilnya keren semua potonya hehehe... thanks Genjie!

Untuk kuliner, banyak sekali makanan yang wajib dicoba dalam trip Dieng ini, misalnya mencoba Mie Ongklok yang biasa dimakan dengan sate, gorengan tempe mendoan dan tahu plus Purwaceng... yang terkenal sebagai makanan khas Dieng. Jadikan liburan Anda ke Dieng lebih istimewa dengan mengunjungi tempat-tempat indah. Keelokan alam Dieng memang menggoda untuk terus dijelajahi tiap jengkalnya. Pernahkah kamu mendengar tentang wisata di dataran tinggi Dieng?  Dieng kini tak pernah sepi, selalu ada keelokan yang bisa dinikmati jika berkunjung ke sini. Selamat berkunjung Dieng menanti Anda.

Cerita berikutnya:




Festival Tahunan Dieng