LIVE IS AN ADVENTURE

I think by traveling you can better appreciate yourself and the different cultures of the world... Enjoy life all around the world. To share with many people with different way of living. To love. To dance with the birds and sing with the wind....

Travelling brings color to my life. I'm travelling for the joy...
"...there is a difference between knowing the path and walking the path" - Morpheus

I am not good at writing but I want to share the adventure in my journey, but I have a lot of photo trips. Let the pictures are going to tell you about this trip ;)

Not only for the destinations, but it's about the journeys...
when you are traveling the time should be yours.

Some in my blog is using Indonesian, If you do not understand Indonesian you can use "Google Translate" at the top left of this blog. I hope this blog can be useful ...


DILARANG MENGAMBIL atau COPY PHOTO-PHOTO DALAM BLOG INI TANPA IJIN!

Sabtu, 29 November 2008

Gyeongju Adventure at South Korea.


Cheomseongdae Observatory Gyeongju


Gyeongju, salah satu kota di bagian timur laut Korea Selatan. Kota yang dikenal sebagai kota sejarah dan budaya, ini bak museum tanpa atap. Sebagai ibukota dari kerajaan Silla hampir 1000 tahun lamanya, Gyeongju mewariskan banyak sekali peninggalan budaya sejarah dan cagar alam yang mempesona dan sampai saat ini masih terjaga. Terlihat pada candi-candi, benda-benda kuno yang bersejarah dan makam-makam tua yang unik dari kerajaan Silla yang dahulu pernah berjaya dan berbagai alam budaya tersebar diseluruh pelosok kota Gyeongju. Kota ini sejak tahun 2000 sudah masuk dalam daftar UNESCO sebagai warisan budaya dunia.


Gyeongju Station.


Kota kecil yang jauh dari hiruk pikuk kaum urban, Gyeongju sungguh mengasyikkan. Kota tenang ini telah menggelitik hasrat melancong kami. Pada akhir Oktober kami tiba disana, disambut musim gugur yang indah dan udara yang cukup dingin untuk ukuran Asia yaitu sekitar 14 hingga 5 derajat Celcius. Perbedaan waktu antara Jakarta dengan Gyeongju hanya dua jam tidak terlalu bermasalah terhadap jam biologis kami, sehingga kami masih bisa beradaptasi.


daun maple saat musim gugur


Kami bermalam di hotel Icarus, penginapan sederhana yang mewah tapi tidak mahal. Suasana kamar yang artistik dan fasilitas kamar yang dilengkapi TV LCD 36 inchi, pemanas ruangan yang nyaman hingga lantainyapun hangat, komputer yang bisa internet yang bebas digunakan secara gratis, ada kulkas, steril box, dispenser, dan perlengkapan mandi yang tak lupa dengan piyamanya, serta tempat tidurnya juga hangat, ternyata spring bed-nya dialiri listrik. Saya tidak tahu bagaimana pengoprasiannya, yang jelas setelah saya bangun pada pagi hari, tubuh menjadi hangat dan bugar kembali, siap untuk menjelajahi kota bersejarah ini. Kami mengambil dua kamar, dengan fasilitas ini kami membayar 40.000 Won Korea (jadi sekitar Rp 400.000, dimana 1 Won Korea = Rp10 😉 untuk satu malam.

Hotel Icarus ini berada dekat terminal station Gyeongju dan tidak jauh dari tempat-tempat wisata yang akan dikunjungi, dan didekat terminal tersedia tourist information yang sangat membantu kami mendapatkan berbagai informasi baik wisata atau lainnya. Karena di Korea khususnya Gyeongju, umumnya penduduknya tidak bisa berbahasa Inggris dan kami sendiri tidak mengerti banyak bahasa Korea, jadilah kami sering menggunakan bahasa tarzan. Dan untuk berbelanja kami mencari barang yang sudah tertera harganya atau menggunakan angka di kalkulator untuk menawar, dan jika ingin makan kami hanya menunjukkan gambar agar tidak salah memilih. Wah… repot sih awalnya, tapi kelamaan kami jadi terbiasa juga dan kami menikmati pengalaman itu.  




Gyeongju dikenal sebagai kota sejarah dan budaya ini sering disebut sebagai ”Seorabeol” atau ”Gyerim”. Sebagai ibu kota dari kerajaan Silla sampai dibawah pimpinan Raja ke-22 yaitu Raja Jijeung hingga tahun ke-4 masa pemerintahannya. Silla sendiri berarti ”hasil karya raja yang diperbaharui setiap saat dan sampai pelosok negeri”. Rasanya tidak sabar ingin segera kami menjelajahi kota kuno ini.






Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, kami susuri kota wisata nan elok ini dengan berjalan kaki, melewati jalan canblock-nya yang ramah lingkungan, yang dihiasi guguran daun-daun dari barisan pohon-pohon yang daunnya berwarna-warni, menghiasi sepanjang jalan. Nampak kejauhan sejumlah rumah hanook, yaitu rumah tradisional Korea melengkapi indahnya kota ini. Gyeongju terletak di daerah pegunungan yang dekat dengan laut. Penduduk aslinya sebagian besar hidup dari pertanian.





jangan lupa cobain buah Kesemek dan Tomat yaa!
suasana kota Gyeongju dari stasiun


Kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan taxi menuju Daereungwon Tomb Park. Makam kuno.... wuiihh, kedengaranya seram yaa! Untuk masuk ke makam ini kami harus membayar tiket masuk seharga 1000 Won Korea. Setelah membeli tiket, hati saya berkata ”saatnya petualangan dimakam kuno”. Sedikit berdebar kami mulai memasuki gerbang makam itu yang dijaga oleh dua patung besar yang cantik yaitu Gwani dan Geumi. Yaitu karakter Gyeongju yang diwakili oleh Gwani seorang laki-laki dan Geumi seorang perempuan, jauh dari kesan angker sebuah makam. Setelah melewati gerbang, kami disambut oleh taman pinus yang lumayan luas dan lebat, tapi tidak seram. Karena taman ini terawat. Disini banyak dijumpai tupai dan burung-burung seperti burung jalak putih yang sedang mencari makanan disela-sela daun-daun dan bunga pinus yang berjatuhan. Rasa penasaran membuat saya ingin segera melihat makam kuno ini.





Taman makam kuno ini bak taman bunga yang dihiasi bukit-bukit hijau, tapi dimana makam kunonya? Dalam hati saya bertanya. Ya! Bukit-bukit itulah makam kunonya. Ada satu bukit yang menjadi perhatian saya, bukit yang paling besar dan panjang daripada bukit yang lainnya. Seperti dua bukit yang menyambung. Itu adalah makam Raja Hwangnamdaechong, dari kerajaan Silla. Panjangnya sekitar 120 m dengan tinggi 80m dan lebar kekanan 22 m dan lebar kirinya 23 m.







Di Gyeongju ada 30 makam kuno yang tersebar dan bentuknya seperti bukit-bukit kecil yang dibalut rumput hijau. Sangat mengagumkan. Terlihat juga beberapa rombongan anak-anak sekolah yang dipandu beberapa gurunya, mengitari bukit sambil memberi panduan menceritakan mengenai sejarah makam kuno ini sepertinya. Terlena keindahannya, tidak terasa perjalanan kami sampai di gerbang keluar. Pantasan saja, Gyeongju selain mendapat julukan kota budaya, kota bunga, kota hijau, juga disebut kota makam kuno.



Hari sudah mulai siang, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri taman hingga menuju jalan raya yang dihiasi barisan pohon-pohon yang indah. Kami menyusuri jalan kecil, dengan udara yang sejuk, kami terus melangkah sambil tidak ketinggalan mengabadikan indahnya suasana kota. Terlihat menara yang unik, tidak terlalu tinggi dibentuk seperti susunan batubata putih dengan jendela kecil. Masyarakat disana menyebutnya Cheomseongdae Observatory. Dibangun pada masa pemerintahan Ratu Seondeok. Diketahui bahwa bangunan ini merupakan menara observatory yang paling tua di Asia. Struktur bangunannya merefleksikan spirit dari rakyat Silla dan setiap susunan batubata putih itu memiliki maknanya. Bentuknya dari bawah hingga naik keatas bak garis tubuh seorang wanita dan diatasnya terlihat batu dengan bentuk segi empat yang melambangkan langit.




Tidak terlalu jauh dari Cheomseongdae Oservatory, kira-kira 200m ada taman bunga dan diujung jalan ada taman yang dihiasi pohon-pohon besar yang telah menunjukkan usia lanjut pohon-pohon itu. Daunnya yang berwarna-warni, indah sekali dipandang. Ada pohon Maple dan jenis pohon Zelkova. Layaknya hutan kecil berwarna, masyarakat menyebutnya ”Gyerim Forest”. Taman hutan ini sangat terawat. Ada satu pohon yang menarik perhatian saya, batangnya lumayan besar. Batangnya keras seperti batu, tidak ada serat kayu pada batangnya tapi terlihat ranting dan daunnya keluar dari batang pohon yang keras itu. Dan benar saja, ternyata itu pohon batu , tingginya kira-kira 8 m. Tidak ketinggalan sayapun mengabadikan keindahan hutan kecil itu. Saya jadi inget film ”autum in Newyork” yang dibintangi oleh Richard Gere. Taman dengan barisan pohon Maple yang daunya berwarna kuning kemerahan ditambah guguran daun-daunnya menambah keindahannya.




Sempat mampir ke museum Nasional, Gyeongju. Museum ini dulu pada tahun 1913 bernama “Gyeongju Historis Sport Preservation Society” kemudian pada tahun 1975 hingga saat ini menjadi “Gyeongju National Museum”. Museum ini dibuka setiap hari dari jam 09 pagi hingga 18.00 sore. Kecuali hari Senin dan setiap tanggal 1 Januari, museum ini tutup. Dengan harga tiket umum 1000 Won Korea. Kurang lebih ada 3000 benda purbakala yang tersimpan di museum ini.






Dihalaman samping museum, saya melihat lonceng raksasa. Yang katanya lonceng ini terbesar di Korea. Mereka menyebutnya “Bongdeoksa Bell” atau “Emille Bell”. Lonceng ini dibuat oleh Raja Silla yang ke-35 yaitu Raja Gyeongdeok untuk dipersembahkan dalam mengenang ayahnya yaitu Raja Seongdeok. Kalau ingin mendengarkan rekaman suara bell ini akan terdengar setiap satu jam sekali, sebagai penunjuk waktu di area museum ini. Bell ini telah diakui dunia akan suara dan bentuknya yang mengagumkan. Merupakan lonceng perunggu yang terkenal di dunia. Lonceng besar ini dijaga dua patung kura-kura raksasa didepannya.





Tidak terasa hari sudah mulai gelap. Hingga akhirnya malam, perjalanan kami berujung disalah satu rumah makan tradisional Korea. Kami langsung memesan makanan. Harga makanan cukup mahal. Karena, selain menu utama yang kita pesan kita juga akan medapatkan beberapa menu tambahan. Yaitu makanan favorite masyarakat Korea yaitu kimchii. Ada yang terbuat dari beberapa bahan dasar antara lain sawi putih, lobak, ganggang laut, rumput laut dan masih banyak lagi. Rasa kimchi seperti asinan sayuran asal bogor tanpa kuah, rasanya: pedas, asam, asin dan aroma bawang putih yang menyengat. Seorang rekan memesan minuman tradisional Korea “Soju” dan saya sempat mencicipi. Ketika disesap, mendadak saya terhenyak ada kadar alkoholnya. Minuman ini dibuat hasil peragian air beras. Harga perbotolnya 3.500 Won Korea (sekitar Rp 35 ribuan). Soju menghangatkan tubuh dari udara malam dimusim gugur, mengantar tidur kami menjadi lebih nyenyak setelah petualangan satu hari.





Jangan lupa mencicipi cemilan khas Gyeongju untuk menemani perjalanan yaitu sticky barley bread. Cemilan yang harus dicoba. Bentuknya seperti pancake kecil, kalau di Jakarta sering disebut dorayaki. Dengan paket kecil isi 20 buah seharga 5000 Won Korea. Kami membeli tiga paket kecil. Enak dan mengenyangkan. Selain itu ada juga kimbab yaitu sejenis makanan dari beras bentuknya panjang sebesar telunjuk orang dewasa dengan bumbu berwarna merah sedikit pedas asam manis, ini sangat saya sukai dan harus dicoba. Ada juga semacam otak-otak ikan tapi berkuah hangat dan rasa kaldu yang khas, makanan ini selain mengenyangkan juga menghangatkan tubuh.




Esok harinya kami bangun dengan tubuh yang telah kembali segar dan siap untuk petualangan selanjutnya. Setelah sarapan, kami menghampiri turist informasi yang terletak didekat terminal bus Gyeongju dan juga dekat dengan hotel kami. Kami mendapatkan penawaran wisata satu hari dengan bus ac, dengan biaya per orangnya 15.000 Won tanpa lunch, mengunjungi empat tempat wisata sejarah. Sambil menjemput wisatawan yang lain, kami dapat menikmati kembali panorama kota Gyeongju. Tapi sayang, kami mendapatkan tour guide yang tidak bisa berbahasa Inggris. Memang kesulitan terbesar untuk berwisata di negeri ginseng ini adalah bahasa. Jarang sekali ditemukan orang yang dapat berbahasa Inggris. Jadilah kami hanya bengong, tidak mengerti apa yang dia ceritakan. Karena tidak enak hati, dia meminta maaf pada kami karena tidak bisa berbahasa Inggris. Jalan satu-satunya kami tidak ketinggalan untuk mengambil brosur yang berbahasa Inggris yang tersedia ditempat-tempat wisata, untuk kami baca. Paling sedikit kamu tahu sejarah budayanya.




Pertama, kami mengunjungi Gwoereng Tomb. Dimana Raja Wonsung dari kerajaan Silla dimakamkan. Tidak heran, Gyeongju sering disebut kota makam kuno. Karena banyak sekali disini makam-makam kuno dari kerajaan Silla. Makamnya dikeliling hutan pinus yang dihiasi taman-taman bunga dan barisan beberapa patung sebagai penjaga makam. Ada satu patung yang saya sukai, mereka sebut “Dolsaja” sepasang patung singa dengan berwajah berbeda yaitu tersenyum cemerlang dengan memperlihatkan barisan giginya yang rapih, seperti iklan pasta gigi. Seperti umumnya makam kuno di Korea bentuknya unik, seperti bukit-bukit hijau yang dilapisi rumput-rumput yang tertata rapih. Bak taman bunga yang indah, tidak menakutkan sama sekali.






Perjalanan selanjutnya, menuju Golgulsa Temple. Letaknya di lereng bukit yang rimbun dengan pepohonan. Kami harus berjalan mendaki kearah bukit kapur yang hijau. Suasana yang hening, membuat tempat ini semakin syahdu. Ada beberapa temple disini, ada satu yang paling besar. Dimana masih dipergunakan untuk sembahyang para biksu dan umat Budha. Disini juga terdapat 12 gua batu yang letaknya diatas bukit kapur cukup tinggi, yang berisi beberapa patung Budha dengan berbagai ukuran. Ada satu relief Budha sedang duduk, yang paling besar di dinding batu kapur yang dibuat pada abad ke-9. Untuk sampai ke relief Budha yang besar diatas batu kapur, saya harus manaiki bukit kapur curam itu dengan tinggi sekitar 100m. Keletihan dan kegamangan terlipur oleh keindahan relief dan patung-patung Budha dengan berbagai ukuran dan pesona alam yang nampak dari ketinggian. Sangat Mengagumkam.






Kuil ini masih dihuni beberapa biksu, saya juga melihat dari beberapa mereka ada yang beraktivitas, ada yang sedang berdoa, berjalan mengitari candi dan ada juga yang sedang berlatih bak adegan sholin yang di film-film itu. Wah, terlihat kelenturan tubuh yang sangat terlatih. 


Daewangam” Tomb of King Munmu


Kemudian melanjutkan perjalanan ke arah timur laut yaitu pantai Bonggil, dimana terdapat makam raja yang berada di dalam laut dibawah batu karang yaitu makam Raja Munmu yang disebut juga sebagai “Daewangam” panjangnya sekitar 20m berupa batu karang, kira-kira 200m dari bibir pantai. Menurut legenda, Raja Munmu yang telah wafat direnkarnasikan kembali menjadi naga laut dan dia mengirimkan seekor naga untuk membuat seruling bambu untuk menjaga negerinya. Jika seruling itu dimainkan, musuh yang menyerang akan mundur, penyakit bisa disingkirkan dan badai akan berhenti, ombak pun akan tenang. Raja menyebutnya seruling Manpashikjeok yang membawa perdamaian dan menghancurkan kesulitan. 

Sambil menikmati indahnya pantai yang dihiasi ombak kecil dan burung-burung camar yang berterbangan melengkapi keindahan pantai Bonggil, kami disuguhi makan siang dengan menu seafood yang lezat. Sehabis makan siang kami diberi kesempatan berjalan mengitari pantai untuk menikmati keindahan. Selain restoran, disekitar pantai juga terlihat pedagang-pedagang berbagai jenis ikan dan rumput laut tidak ketinggalan souvenirpun ada.

Tour terakhir mengunjungi Gameunsaji Samcheung Three Storied Twin Pagodas. Letaknya tidak jauh dari pantai Bonggil. Tampak dua menara kembar pagoda berdiri gagah berhadapan, satu di bagian timur dan lainnya dibagian barat. Menara kembar ini dibangun oleh Raja Shinmun untuk dipersembahkan sebagai penghargaan pada ayahnya Raja Munmu. Tinggi masing-masing menara pagoda ini 13,4 m dengan tiga tingkat diatasnya, menara ini juga dilandasi dua lapisan batu sehingga masih kokoh sampai saat ini. Menara kembar ini menggambarkan stabilitas dan kesempurnaan keseimbangan yang lengkap. Puas menikmati kehebatan peninggalan kejayaan masa lalu yang terjaga ini, tiba saatnya mengakhiri petualangan satu hari kami di kota ini.




Sambil melintasi perjalanan akhir tur, kami menikmati pemandangan kota yang asri perpaduan antara tradisional dengan modern. Terlihat menara Gyeongju dengan bentuknya yang unik bak siluet pagoda dengan ketinggian 82 m. Disebelahnya terdapat gedung expo budaya dimana tempat diselenggarakan berbagai pameran baik budaya, pendidikan, maupun industri.




Satu mengingatkan akan kota ini yaitu sejarah dan budaya. Masih terlihatnya alam budaya kuno yang terjaga dan kota yang indah, Gyeongju merupakan kota yang diwariskan untuk dunia yang dipersembahkan bagi umat manusia dan sekarang lahir kembali mewakili pusat budaya dan sejarah Korea.


Toilet yang hanya ada di Gyeongju.
Map of Gyeongju City



Cerita ini juga sudah terbit pada:
Majalah Intisari edisi Mei 2011








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Musim Semi Rasa Winter di Dolomites

Dari keindahan alam, laut mediterania hingga bangunan-bangunan kuno peninggalan sejarah, Italia memang merupakan salah satu negara te...