LIVE IS AN ADVENTURE

I think by traveling you can better appreciate yourself and the different cultures of the world... Enjoy life all around the world. To share with many people with different way of living. To love. To dance with the birds and sing with the wind....

Travelling brings color to my life. I'm travelling for the joy...
"...there is a difference between knowing the path and walking the path" - Morpheus

I am not good at writing but I want to share the adventure in my journey, but I have a lot of photo trips. Let the pictures are going to tell you about this trip ;)

Not only for the destinations, but it's about the journeys...
when you are traveling the time should be yours.

Some in my blog is using Indonesian, If you do not understand Indonesian you can use "Google Translate" at the top left of this blog. I hope this blog can be useful ...


DILARANG MENGAMBIL atau COPY PHOTO-PHOTO DALAM BLOG INI TANPA IJIN!
Tampilkan postingan dengan label PHILIPPINE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PHILIPPINE. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 April 2014

St. Agustin Church di Intramuros, Manila





Mengunjungi San Agustin Church ini tidak direncanakan, awalnya kami hanya mengikuti kaki melangkah untuk menghabiskan waktu 5 jam transit di kota Manila pada saat trip El Nido. Dengan bertanya kesana kemari.... akhirnya kami sampai juga di gereja San Agustin. Banyak gereja cantik di sekitar Manila. Maklum, Filipina merupakan negara pemeluk Katolik Roman terbanyak ketiga di dunia.



San Agustin terletak di General Luna Street, jam kunjungan pertama dimulai dari jam 08:00-12.00 dan dibuka kembali jam 13:00-18:00 setiap harinya. Berada di distrik Intramuros yang merupakan kawasan Kota Tua di Manila yang dibangun pada masa kolonial Spanyol atau dikenal sebagai "Walled City". Di dalam komplek ini terdapat FORT SANTIAGO, Manila Cathedral dan SAN AGUSTIN CHURCH. Gereja San Agustin adalah Gereja Katolik Roma, merupakan gereja tertua di Filipina yang termasuk warisan budaya yang dilindungi UNESCO sejak tahun 1993. Dalam sejarahnya, gereja ini dibangun oleh Spanyol pada abad keenam belas, tetapi baru disucikan setelah tahun 1607. Dengan arsitektur yang indah dan megah pada masanya.  





Sebuah lonceng besar menyambut para pengunjung selepas loket pembayaran. Lonceng ini berasal dari menara yang rubuh akibat gempa tahun 1863. Sisa kerusakan gempa bisa dilihat hingga kini, San Agustin tetap berdiri tanpa menara timurnya. Filipina yang terletak di area ring of fire rentan diserang gempa. Hal ini membuat gereja-gereja tua dari abad 16 dari Ilocos sampai Visayas sangat berisiko tinggi untuk rusak.




Bangku-bangku kayu tua diletakkan menghadap dinding museum yang dipenuhi lukisan para Santo serta ilustrasi gereja-gereja tua nan bersejarah di seluruh Filipina.


Masuk ke Gereja San Agustin adalah gratis tetapi ada biaya museum 100 PHP untuk orang dewasa, 80 PHP untuk senior, dan 40 PHP untuk anak-anak. Ada juga diskon untuk perguruan tinggi dan sekolah tinggi siswa, jadi pastikan untuk menanyakan tentang harga pada saat kedatangan Anda. The Website untuk kedua atraksi menawarkan up-to-date daftar acara khusus mendatang.

Gereja ini juga terdapat Museum didalamnya.
Bagian paling menarik di dalam Gereja San Agustin dan Museum untuk dikunjungi pastilah bagian aula utama gereja. Gereja San Agustin yang bergaya baroque yang spesifik ke gaya Filipina ini berdiri sejak tahun 1606 sekaligus menjadi gereja pertama di Filipina yang dibangun dengan batu. Di dalam bangunan utama ini terdapat 14 kapel yang pilarnya ditandai dengan 14 ilustrasi Jalan Salib atau Via Dolorosa.









San Agustin, walaupun masuk dalam kategori world heritage oleh UN, ternyata San Agustin Church tidak masuk dalam kategori Minor Basilica oleh Vatikan seperti yang disandang Manila Cathedral, Basilica Menore Del Santo Niño di Cebu , dan 10 gereja lainnya di Filipina. Minor Basilica sendiri adalah gelar yang diberikan kepada gereja-gereja di seluruh dunia yang hanya ‘kalah gengsi’ oleh 4 major basilica termasuk St Peter di Vatikan.

salah satu ruang makam di dalam gereja San Agustin
Pusara Miguél Lopéz de Legazpi di dalam gereja San Agustin


Gereja San Agustin ini juga yang menjadi tempat pembaringan jasad penakluk Filipina asal Spanyol, Miguél Lopéz de Legazpi. Pusaranya berada di dekat altar dengan penanda sebuah patung perunggu yang berbaring di atas peti batu. Gereja ini juga merupakan makam beberapa tokoh sejarah, termasuk beberapa conquistador, negarawan dan seniman.









Naik ke lantai 2 gereja ini, kita bisa melihat ruangan museum. Menaiki tangga batu gedung ini seperti merasakan dan berada di film vampire.... karena tembok batu yang berwarna kelabu dengan cahaya remang-remang dan dekorasi tua dengan lukisan-lukisan yang sangat mendukung... dan lebih lagi saya berjalan sendirian, membuat suasana menjadi lebih dramatis...hehehe :-)

Berbagai benda seni dan peninggalan yang bersejarah berkaitan dengan gereja ini dapat kita jumpai disini seperti pameran seni dan artefak dari Filipina, Spanyol, Meksiko dan pusat-pusat kebudayaan lainnya. Sejarahnya, San Agustinian tiba di Filipina pada tahun 1565 hanya beberapa dekade setelah Magellan menjelajahi pulau-pulau Filipina. Meskipun telah rusak oleh pasukan Inggris di abad ke-18, pasukan Amerika di abad ke-19 dan gereja yang syarat artefak sejarah ini untungnya selamat dari pemboman Jepang selama Perang Dunia 2... sehingga masih bisa diperbaiki. Sebagian karena upaya restorasi telaten dilakukan pada 1970-an. Saya sangat tertarik mengenai tentang sejarah, jadi tidak akan mau ketinggalan dan sangat menikmati! ;-)



ruang museum di lantai dua gereja San Agustin





Ada sejumlah ketentuan selama mengunjungi San Agustin Museum yakni pengunjung bebas mengabadikan museum dan interior gereja dengan kamera namun dilarang mengambil gambar di exhibit room, dilarang makan dan minum, serta dilarang merokok. Selain ruang pamer, ada bagian-bagian lain dimana kita dilarang untuk mengambil gambar seperti Sala Profundis yakni ruangan mausoleoum yang menampung jasad para penyebar Agama Katolik dari Orde Augustin dan keluarga-keluarga terpandang Filipina seperti Ayala dan Luna. Tanda “dilarang memotret” dan “dilarang memotret dengan flash” mirip banget hingga saya ceroboh membaca dan salah sangka memotret di dalam exhibit room yang saya kira bebas mengambil gambar.... hiks :-(




Tak henti-hentinya saya mengagumi setiap sudut bagian San Agustin Church dan Museum karena bagian gereja dan museumnya sama-sama membuat saya ternganga. Peninggalan-peninggalan sejarah era kolonial Spanyol dan modern dipelihara sama baiknya. Ceruk dinding dibiarkan asli dengan ornamen Aztec dari Mexico dari abad 16 masih bersanding kereta-kereta yang digunakan untuk mengangkut dekorasi semasa kunjungan Paus Johannes Paulus II di era modern juga ada.



Jika hanya ada sedikit waktu singgah ke Manila, San Agustin Church and Museum bisa dijadikan alternatif persinggahan terutama bagi ingin merasakan ‘time traveling’ ke zaman kolonial. Worth every peso, pare!.







 





Rabu, 09 April 2014

KaLui Restaurant di Puerto Princesa





KaLui is the most famous restaurant in Puerto Princesa! Tidak lengkap kalo berpetualang ke Puerto Princesa tidak mencicipi masakan KaLui. Ini slogan dari beberapa blog yang sempat saya baca sebelum melakukan petualangan ke El Nido. Kalui adalah nama salah satu restaurant di kota kecil Peurto Princessa di Pulau Palawan - Philippine.... yang unik, indah dan nikmat :-) yang mesti dicoba jika berkesempatan mengunjungi kota ini... harga standard alias masih bisa lah buat kantong traveler ala backpackers :p

Uniknya, kita mesti booking terlebih dahulu, karena mereka ada kuota buat pengunjung... bisa minta tolong orang hotel untuk itu... Dipanggil berdasarkan nomor booking-an... setelah masuk pesan makanan yang semua menunya kebanyakan seafood, Natural, rapih dan indah selintas seperti restaurant mahal :-)) .... makanan datang satu per satu....pas datang langsung ludes :-))  yang penting fresh from kompor ...hihihiii..

Yang mengesankan, selain makanan yang lezat... suasana interior yang penuh karya seni dari depan pintu masuk hingga langit-langitnya penuh dekorasi... semua indah di mata, kita juga diperbolehkan buat poto-poto disekitar galeri seninya... keren!








Kami diantar dengan tricycle menuju KaLui dengan ongkos PP sebesar 350 peso. Tidak jauh dari tempat kami menginap. Setibanya di gerbang KaLui, ternyata sudah ramai orang yang datang dan menunggu antrian untuk masuk. Dan saat kami berjalan, kami dipandu oleh salah satu pelayan dan diminta tentang rincian reservasi kami. Tidak lama kami dipanggil untuk masuk, ternyata kami mendapatkan nomor bookingan yang ke 7 dan langsung masuk ke restoran.

Kami berjalan menuju meja yang sudah diatur dimana kami harus duduk, sambil melihat sekeliling dan segala sesuatu di sekitar ruangan penuh dengan karya seni. Ya, seni! benar-benar, keren. Ini seperti makan di dalam sebuah pameran. Dekorasi dan desain restoran yang eksplisit, tanpa diragukan lagi... benar-benar dipikirkan dengan baik Restoran yang besar dan luas! Tidak memiliki AC tetapi memberikan suasana khas Filipina. Hal ini seperti berada di pondok nipa raksasa dengan banyak kerajinan dan lukisan dan patung di dalamnya. Suasana benar-benar hebat. ;-)

O iya, sebelum memasuki restoran utama kudu nyeker alias dilarang pake sandal atau sepatu kalo masuk restaurant! Nah... alas kaki disimpan di rak atau keranjang jika rak penuh. Ini adalah salah satu aturan restoran ini dan kami tidak keberatan berjalan tanpa sepatu di dalam restoran yang berlantai kayu itu.




Ada satu yang unik di menu pembuka..... rumput laut! Itu tampak seperti makanan mainan dengan bentuk seperti batu kecil berwarna hijau. Ragu-ragu untuk memakannya tapi, aku harus mencobanya. Aku merasakan dengan mata tertutup. Perasaan itu sedikit lucu dan rasanya agak tawar dan ada bau lautnya, ditetesin jeruk nipis sedikit untuk lebih enak. Mereka mengatakan itu adalah sumber vitamin dan antioksidan. Anda harus mencobanya. Segala sesuatu yang lain terasa.... krenyes... krenyes.











Rasanya saya ingin berlama-lama di tempat ini. Sebuah tempat di mana Anda bisa dengan damai makan ditengah ruangan bak galeri seni. . Setelah piring kami diangkat, pelayan bertanya: apakah hidangan penutup kami dihidangkan? Dan HIDANGAN PENUTUP, gratis datang.... Woohoo.. porsi gratis buah-buahan tropis campuran ditaburi dengan kayu manis di atas tempurung kelapa setengah. Sebuah cara yang bagus untuk mengakhiri makan malam kami.



By the way, ketika Anda berada di sini jangan lupa untuk pergi ke belakang restoran. KaLui memiliki ruang pameran kecil di bagian belakang restoran di mana puluhan lukisan yang dipamerkan. Beberapa dari hasil karya seniman lokal.



The price of their food is just right. For everything that we had on our table and we left the restaurant really full and satisfied. It was definitely worth it.

YES. This is great for families, group of friends, couples, etc. When you visit Puerto Princesa, you wouldn’t regret trying out this place. It’ll be a unique experience as much as witnessing the Underground River in that city. Definitely for tourists.

KaLui: “Native Look, Artsy Feel” Restaurant in Palawan





Opens Daily:
Operating Hours: Opens Monday to Saturday, Closed on Sunday;
                           * Lunch 11 - 2pm; Dinner 6:00 - 10:30pm

Reservations Requested:(048) 433 2580 / Ask your hotel front desk to call the restaurant to reserve seat/s for you. Mobile No: +63 928 753 9621

369 Rizal Avenue, Puerto Princesa City, Palawan













Musim Semi Rasa Winter di Dolomites

Dari keindahan alam, laut mediterania hingga bangunan-bangunan kuno peninggalan sejarah, Italia memang merupakan salah satu negara te...