LIVE IS AN ADVENTURE

I think by traveling you can better appreciate yourself and the different cultures of the world... Enjoy life all around the world. To share with many people with different way of living. To love. To dance with the birds and sing with the wind....

Travelling brings color to my life. I'm travelling for the joy...
"...there is a difference between knowing the path and walking the path" - Morpheus

I am not good at writing but I want to share the adventure in my journey, but I have a lot of photo trips. Let the pictures are going to tell you about this trip ;)

Not only for the destinations, but it's about the journeys...
when you are traveling the time should be yours.

Some in my blog is using Indonesian, If you do not understand Indonesian you can use "Google Translate" at the top left of this blog. I hope this blog can be useful ...


DILARANG MENGAMBIL atau COPY PHOTO-PHOTO DALAM BLOG INI TANPA IJIN!
Tampilkan postingan dengan label CROATIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CROATIA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Oktober 2017

Mengunjungi Kota Tua Motovun, Croatia


Motovun - Croatia


Rute perjalanan saya selanjutnya yaitu Croatia, sebuah negara berbentuk bulan sabit ini tepatnya terletak di Eropa bagian tengah. Saya berkesempatan mengunjungi negeri ini selama 4 hari pada awal bulan Oktober 2017 lalu, termasuk 10 hari digunakan untuk road trip ke beberapa negara lainnya. Saya sangat terkesan dengan keindahannya serta laut-lautnya yang sebening kristal, dengan hamparan kota-kota tua yang unik tersebar diseluruh negeri dengan dihiasi nuansa warna warni musim gugur yang indah.








Untuk mengunjungi Croatia, saya melalui Slovenia dengan menggunakan Visa Schengen - multiple entry melalui negara Austria. Perjalanan hari ini cukup panjang, menjurus ke selatan, sepanjang jalan naik turun menyelusuri pegunungan hingga melintasi desa nelayan di Slovenia. Semua dihiasi landscape yang indah dengan barisan pegunungan Alpen dan perkebunan anggur, zaitun dan warna warni dedaunan di musim gugur membuat rasa lelah hilang lenyap begitu saja. 




Hingga akhirnya kami sampai dan berhenti di border check-point, keluar dari Slovenia untuk masuk Croatia. Disitu ada 2 kios seperti gardu satpam, satu yang di sisi Slovenia dan beberapa langkah ke sana itulah Croatia, yang jaga seorang pemuda dengan pelayanan yang astaga pelannya. Harus menunggu diurus satu persatu di Slovenia lalu lanjut giliran Croatia dan setelahnya selesai urusan, kami terus mengebut laju.




Ada kejadian lucu saat melintasi border check-point Croatia. Mungkin petugas imigrasi yang masih muda itu belum pernah melihat Passpor dari Indonesia: dia meminta saya untuk menjawab beberapa pertanyaan seperti: "nama ayah kandung?" saya sempat tersenyum, karena baru kali ini kan biasanya yang ditanyakan "nama ibu kandung ya.." dan beberapa kali menanyakan dimana letak Indonesia? hehehe.. membuat kami sempat tertahan di pos untuk beberapa menit, menunggu dia meminta bantuan/bertanya pada rekannya (saya tidak tau apa yang mereka bicarakan... sambil melihat ke arah kami di dalam mobil) setelah passpor saya dicap, akhirnya kami diperbolehkan melanjutkan perjalanan.


Gerbang Kota Motovun


Kali ini perjalanan saya mengunjungi kota tua Motovun yang berada di pusat kota Istria, Croatia. Kota tua yang sangat unik dan klasik diatas ketinggian. Kalau di Indonesia biasanya desa-desa terletak di kaki gunung, tapi berbeda dengan desa-desa di Eropa yang terletak di puncak bukit. Motovun salah satunya yang merupakan sisa-sisa peradaban dari abad pertengahan.

Motovun berada dikawasan situs kota kuno Kastelijer dengan ketinggian 270 di atas permukaan laut yang tersusun dari bebatuan menjadi ciri kota tua yang berada di bukit. Letaknya yang tinggi sulit dicapai pasti ada tujuannya pada masanya saat itu, misalnya untuk menghindari serangan dan menyerang musuh pada jaman dahulu kala dengan cara yang efisien.







Secara tradisi, Motovun banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Romawi. Tak heran karena bangsa Romawi tinggal di Motovun sejak abad ke-1 masehi. Saat ini, pemukiman diatas bukit tersebut menjadi obyek wisata yang menarik wisatawan. Di sini saya serasa dibawa untuk bernostalgia ke abad pertengahan. Jalanan, tembok dan tangga yang terbuat dari bebatuan, akan mengingatkan saya ke masa lampau.





Kami langsung melaju ke atas bukit hingga di gerbang kota ternyata mobil wisatawan tidak diizinkan masuk yang diperbolehkan hanya kendaraan penduduk lokal saja, kami harus memarkirkan mobil diarea parkir yang letaknya digaris biru sebelum jalan memasuki gerbang kota tua Motovun. Jalanan berbatu yang sempit menanjak dan berkelok-kelok diantara bangunan tua disepanjang jalan, berbaris toko-toko cindera mata, juga banyak penjual wine dan olive oil dengan berbagai ukuran botol.




Menyusuri jalan hingga ke pusat kota dengan berjalan kaki, tampak tembok dan benteng bangunan seperti menara lonceng gereja berdiri gagah dipinggir alun-alun. Meskipun cukup jauh, saya tidak merasa kelelahan karena sepanjang jalan yang saya lalui disuguhkan dengan pemandangan yang indah dan menarik hati. Motovun, desa dipuncak bukit ini seringkali dibanding-bandingkan dengan Tuscany di Italy.






Saya sempat makan siang di restaurant yang pemandangannya mengarah ke lembah gunung dengan  menyuguhkan keindahan hamparan tanaman berwarna-warni yang mengelilinginya. Saat musim gugur, Motovun seakan diselimuti hamparan karpet berwarna-warni dari tanaman anggur dan tumbuhan perkebunan dengan pemandangan lembah sungai Mirna. Bersantai sambil memandang keindahan lembah yang membentang dan menikmati makan siang dengan segelas wine sambil beristirahat setelah selesai berkeliling dengan suasana sekitar terdengar sayub-sayub musik tradisional dari dalam restaurant. Nikmatnya hidup ini ... huaaa  :-p



my lunch ^_^







Perjalanan yang lumayan panjang namun sangat menyenangkan, karena saya membawa pengalaman yang menarik dan tidak terlupakan. Buat teman-teman yang berencana kesini, harus sewa mobil dan setir sendiri yah, bisa dengan supirnya tapi pasti harganya jauh lebih mahal, karena disini belum ada kereta MRT dan kendaraan umum pun agak susah. Jangan kuatir karena lalu lintasnya tidak ramai, bisa dibilang masih sepi.

Motovun: absolutelly lovely place. Cars are not allowed inside, but it's a such a small town that you will manage to walk around. And the walk is wonderful! Charming, cosy, sunny, must see!


















Sabtu, 07 Oktober 2017

Mengunjungi Kota Tua TROGIR, Croatia




Masih di Croatia, yang dikenal sebagai negara yang memiliki banyak taman nasional. Dari letak geografisnya, Croatia adalah sebuah negara di Eropa bagian tenggara. Negara ini berbatasan dengan Bosnia-Herzegovina di selatan dan timur, Laut Adriatik di sebelah barat, Slovenia dan Hungaria di utara, Serbia di timur laut, dan Montenegro di tenggara. Zagreb adalah ibukota dan kota terbesar Croatia sekaligus pusat kehidupan budaya dan politik di negara itu. Kota-kota penting lainnya di Croatia adalah Dubrovnik, Osijek, dan Rijeka yang belum saya kunjungi. Semoga ada kesempatan dilain waktu.




Jejak selanjutnya, setelah mengunjungi kota diatas bukit: Motovun, kami mengunjungi kota tua Trogir yang dijuluki “Little Venice”. Trogir terletak hanya tiga puluh menit di sebelah barat Split dengan mobil, yang merupakan sebuah kota sejarah & pelabuhan yang cantik di tepian laut Adriatik Dalmatia, Croatia yang terletak hanya tiga puluh menit di sebelah barat Split dengan mobil. Kota ini masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1997.

Kami berkunjung diawal bulan Oktober 2017, cuaca saat itu sangat cerah walau sudah memasuki musim gugur, sinar matahari yang sangat cerah seperti musim panas tapi angin yang berhembus menyejukkan kulit.






Kami menginap di kota Split,  setelah sarapan pagi di penginapan kami lanjut melakukan perjalanan sehari penuh menjelajahi Trogir. Kota tua ini terletak di sebuah pulau, dapat diakses dengan jembatan dari daratan. Kota ini kecil sekali. Sangat kecil kita bisa berjalan dari satu ujung ke ujung lainnya dalam beberapa menit saja, jika berjalan cepat. Tapi kota kecil ini penuh dengan pesona, pemandangan indah, disepanjang gang sempit dilapisi batu yang dibangun sejak dulu kala.


Benteng Kamerlengo, Trogir - Crotia


Setelah kami memarkirkan kendaraan, kami langsung berjalan menuju kota tua. Pertama kami disambut benteng tua yang gagah tapi usang yaitu Kamerlengo Fortress. Di dalamnya seperti cangkang yang kosong, hanya dinding dan sudut pada 4 tower masih terlihat gagah. Saya naik tangga mengelilingi dinding benteng dan mendapat kejutan diatas: wow... pemandangan indah kota nelayan tua Trogir yang dikelilingi laut dan bukit-bukit tandus yang dihiasi pohon-pohon palm menambah eksotisnya suasana mediterenia. 


View dari atas Benteng Kamerlengo, Trogir





dari atas menara benteng Kamerlengo



Menurut sejarahnya, benteng Kamerlengo dibangun oleh Republic of Venice pada pertengahan abad ke-14 oleh Marin Radoj. Selain tempat bersejarah, benteng ini juga sering digunakan untuk pertunjukan musik saat musim panas. Saya membayar tiket masuk untuk mengexplor benteng yaitu sebesar 25 Croatian Kuna. Berikut pemandangan yang saya sempat rekam dengan kamera:





diatas menara benteng ada jendelanya bisa liat keluar
suasana didalam Benteng Kamerlengo


Setelah puas berpoto diatas ketinggian dinding benteng Kamerlengo, saya melanjutkan perjalanan mengeksplore kota tua dengan berjalan kaki mengunjungi historical city core dan old town  dimana terdapat bangunan peninggalan abad pertengahan 14, dipenuhi dengan berbagai kafe, bar, dan restoran serta barisan toko souvenir, juga gereja-gereja tua yang indah yang memberikan contoh menakjubkan dalam perkembangan budaya yang dapat kita telusuri hingga pada zaman Hellenistic

Saya suka berjalan di gang berbatu dan sempit dengan tidak ada lalu lintas kendaraan bermotor sehingga membuat segala sesuatu terlihat bersih dan terawat dengan baik walaupun kita bisa menemukan jemuran pakaian diantara dinding atas jalur gang ini. Tapi memang berjalan-jalan mengelilingi kota tua kadang-kadang, kami merasa seperti tidak bergerak walaupun sudah berputar-putar menjelajahi jalan-jalan berbatu dan sempit ini... karna jalan dan bentuk serta warna gedung-gedung tua itu hampir mirip... tapi itu sangat menarik seperti kita memasuki abad pertengahan.



halaman rumah warga setempat, Trogir






Berjalan kaki mengelilingi kota tua Trogir akhirnya membuat kaki lelah dan perut lapar, kami pun beristirahat disalah satu restaurant yang kami dapatkan informasi dari seorang ibu yaitu warga lokal. Dan ternyata memang benar enak sekali, ikan yang dimasak ikannya segar dan bumbunya pun pas! Harganya memang sedikit mahal tapi kami puas atas pelayanannya. Tips: jangan lupa memeriksa harga sebelum Anda duduk dan memesan makanan di restourant yaa.... apakah ada di kisaran harga biasa? yaa... untuk mencegah rasa kecewa aja sih!  ^_^




Selanjutnya, kami melintasi Gereja dan Biara St. Dominic dari luar saja. Kemudian memasuki Katedral St. Lawrence dengan tiket seharga 25 Croatian Kuna. Gereja tua bergaya romanesque architecture abad pertengahan ini dihiasi dengan interior yang indah, pintu masuk gereja dihiasi patung-patung yang unik menggambarkan Adam dan Hawa, juga ada singa dan menggambarkan pemandangan dari cerita Alkitab. Mimbar didalamnya juga klasik. Disisi sebelah kiri ada makam pastur tapi saya lupa membaca nama yang tertera dipatung yang ada diatas makam itu. Di dalam Katedral saya bisa melihat susunan lukisan dinding dan hiasan langit yang seperti di katedral yang lainnya, yang saya yakin banyak hal-hal mengandung simbolisme dalam lukisan tersebut - saya bukanlah salah satu dari ini. Tetapi, saya masih bisa mengagumi karya seni itu. Gereja ini tutup untuk turis saat ada misa di hari Minggu sampai jam 12.00 pm. 








Lanjut, saya menaiki menara lonceng Katedral St. Lawrence melalui tangga spiral yang sangat sempit, untung saja saat itu tidak ramai orang yang turun atau naik, saya membayangkan saat musim panas dan pengunjung ramai, pastinya tangga ini sangat crowded! Pintu tangga berada disebrang pintu utama gereja, saya mendaki keatas menara lonceng yang tinggi dan curam... lelah? itu pasti! tapi saya tidak merasa kecewa karena setelah sampai diatas saya dikejutkan pemandangan yang sangat eksotis disekitar bangunan yang mengelilingi Katedral St. Lawrence.  Saya bisa menikmati pemandangan pulau-pulau di sekitar dari ketinggian.

Beautiful cathedral: Stunning carvings and architecture. The views from the bell tower are amazing although getting up there may be a challenge for some. A beautiful small church in the Old Town. Worth a visit if you're in Trogir!



View dari atas menara lonceng Katedral St. Lawrence, Trogir










Sebelum meninggalkan kota tua Trogir, kami sempat mampir ke pasar tradisional yang ada di area jembatan, tapi karena sudah sore pedagang hanya tinggal beberapa orang saja. Kami membeli buah-buahan untuk bekal perjalanan selanjutnya. Tips: jika ingin berbelanja, lebih baik dilakukan saat pagi karna masih banyak yang berjualan dan harga masih banyak bersaing jadi bisa dapat yang lebih murah.







Trogir, kota yang masih kental akan adat istiadat, budaya, dan keunikan warganya ini patut dikunjungi jika anda berkesempatan mengunjungi Croatia karena Trogir juga adalah kota yang sangat fotogenik.


Croatia Map

Best Things to do in Trogir:
   * Kunjungi Benteng Kamerlengo
   * Mendaki menara Katedral St. Lawrence
   * Berjalanlah ke Kota Tua
   
When to go:
Peak season is the summer months of June, July, and August. Expect hot weather and lots of tourists. May and September may be better times to visit, with slightly cooler weather and fewer people.














Musim Semi Rasa Winter di Dolomites

Dari keindahan alam, laut mediterania hingga bangunan-bangunan kuno peninggalan sejarah, Italia memang merupakan salah satu negara te...