LIVE IS AN ADVENTURE

I think by traveling you can better appreciate yourself and the different cultures of the world... Enjoy life all around the world. To share with many people with different way of living. To love. To dance with the birds and sing with the wind....

Travelling brings color to my life. I'm travelling for the joy...
"...there is a difference between knowing the path and walking the path" - Morpheus

I am not good at writing but I want to share the adventure in my journey, but I have a lot of photo trips. Let the pictures are going to tell you about this trip ;)

Not only for the destinations, but it's about the journeys...
when you are traveling the time should be yours.

Some in my blog is using Indonesian, If you do not understand Indonesian you can use "Google Translate" at the top left of this blog. I hope this blog can be useful ...


DILARANG MENGAMBIL atau COPY PHOTO-PHOTO DALAM BLOG INI TANPA IJIN!
Tampilkan postingan dengan label INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INDONESIA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Mei 2018

Pesona Danau Toba




Long weekend di akhir bulan Maret lalu, 3 hari libur akhirnya kami berkesempatan mengunjungi tanah batak. Untuk melupakan sejenak rutinitas yang padat dan gedung-gedung pencakar langit di kota dan menggantinya dengan pemandangan alam yang memukau serta udara segar yang menyejukkan, maka kami memilih Danau Toba menjadi tujuan utama, yang luasnya hampir dua kali luas Singapura ini menjadi tempat pilihan kami kali ini.




Horas Toba!! Akhirnya kami tiba dengan selamat. Hari masih pagi kami tiba di Bandar Udara Internasional Silangit yang terletak di desa Siborong-borong Tapanuli Utara - Sumatera Utara, dengan pesawat Sriwijaya Air. Dari Silangit kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus bandara gratis menuju Desa Pangururan - Pulau Samosir. Jarak antara Bandara Silangit ke Desa Pangururan kurang-lebih 100 kilometer yang ditempuh dalam waktu kurang-lebih tiga jam. Bus-nya ber-ac dan kami juga diberi 1 botol kecil air mineral untuk melepas dahaga. Nyaman!

Pemandangan dari pesawat menuju Silangit
(ambil posisi duduk disebelah kiri)




Tiga jam perjalanan tidak membosankan, karena pemandangan yang disuguhkan sangat indah. Perjalanan melewati pedesaan dan pemandangan indah dari Danau Toba yang membentang dari jendela kaca bus yang lebar. Tiba-tiba hujan deras turun menutupi kaca jendela. Bus melaju dengan cepat melintasi jalan pedesaan kemudian meliuk-liuk dan bergoyang-goyang membuat kami terlena dan tertidur sejenak hingga tidak merasakan bus melaju pesat saat mengelilingi Danau Toba.

O iya, kalau ingin ke Danau Toba melalui Parapat dari Bandara Silangit, tinggal menyewa mobil dengan menempuh perjalanan selama 1 jam untuk sampai ke Parapat, dari sana  menyeberangi Danau Toba dengan kapal ferry untuk sampai ke Pulau Samosir yang letaknya di kelilingi Danau Toba.










PESONA Danau Toba menjadi salah satu keajaiban di dunia. Keindahan danau vulkanik yang megah dan juga menawan ini menjadi ikon alam kebanggaan Sumatera Utara. Pulau Samosir yang unik ternyata menyimpang sesuatu yang tak kalah menariknya. Deretan Jabu Bolon berserakan di pinggir jalan. Menara-menara gereja menjulang agung dikawal dengan kubur-kubur batu berukuran besar. Anjing liar dan babi peliharaan sibuk lalu-lalang. Saya tak sabar untuk mampir di salah satu rumah adat dan melongok dalamnya. Samosir menyimpan banyak tempat wisata yang menarik. Selain itu, Danau Toba juga menjadi danau terbesar di Indonesia dengan luas wilayah mencapai 100 kilometer dan kedalaman 505 meter. Kemegahan alam yang indah ini konon katanya sudah terbentuk sejak 75.000 tahun lamanya. Danau Toba memang mengagumkan!






Bus melaju cepat, meliuk-liuk mengikuti jalan yang berbelok-belok. Tak disangka tiba-tiba hujan deras turun dan pemandangan yang semula indah akhirnya tak terlihat lagi. Perjalanan hampir 3 jam - Akhirya kami tiba di Desa Pangururan tepatnya di area terminal dan hujan sudah mulai berhenti,. Beruntung kami dibantu supir bus untuk menyewa mobil, di area parkir terminal yang sepi itu ada satu mobil yang parkir dan pak Supir Bus memanggilnya dan tidak lama pemilik mobil menghampiri kami dan setelah setuju dengan penawarannya kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan menyewa mobil Rp 350 rebu, putar-putar Danau Toba hingga sore.





Sebelum melanjutkan petualangan, kami menyempatkan waktu untuk mampir ke warung babi panggang untuk makan siang menjelang sore atas rekomendasi dari salah satu staff di dalam bus bandara...dan ternyata enak katanya!

Kami mengunjungi Menara Tele atau disebut juga Tele View Tower, pemandangan yang disuguhkan sangat indah hamparan bukit-bukit hijau yang mengelilingi Danau Toba yang berwarna kebiru-biruan. Sejauh mata memandang terlihat sangat manakjubkan panorama alam. Tampak perbukitan yang mengelilingi Danau Toba, Pulau Samosir yang berada tepat di tengah Danau Toba, terlihat sawah mengikuti kontur perbukitan, air danau yang biru dan... pemadangannya memang sangat indah dan menyejukkan mata.


Sawah berkelambu hanya di Samosir



Nama Jalan yang kami lalui Jalan Tele adalah satu-satunya jalan darat yang dapat digunakan sebagai pintu masuk ke pulau Samosir, dan jalur ini akan kita lewati jika kita ingin pergi ke Pulau Samosir ketika kita datang dari Bandar Silangit atau daerah lain melalui Karo, Dairi dan Humbang Hasundutan.

Menara Tele dibangun di sisi jalan Tele - Samosir (jalan yang menghubungkan Bukit Barisan ke Pulau Samosir) yang terletak kemiringan bukit sehingga tempat ini benar-benar menghadirkan keindahan Pulau Samosir dan Danau Toba dan juga keindahan Pusuk Buhit (Bukit diyakini menjadi tempat leluhur pertama Batak) sambil bersantai dan menikmati pemandangan indah Danau Toba. Tempat ini juga sering menjadi tempat peristirahatan bagi orang-orang yang datang ke atau dari Samosir melalui Tele. Tidak jauh dari tempat ada beberapa restoran juga tersedia. Tiket masuk Menara Tele Rp 7000,-





Danau Toba dilingkupi oleh tujuh kabupaten yaitu Samosir, Karo, Tapanuli Utara, Toba Samosir, Simalungun, Humbang Hasundutan, dan Dairi. Pulau Samosir tampak menyembul di tengah danau sekaligus menampakkan eksistensi sebagai pulau vulkanis terluas di dunia. Kemudian kami melanjutkan mengelilingi Danau Toba. Setiap ada spot indah, kami berhenti sejenak untuk mengabadikan keindahan Danau Toba tidak terasa hari sudah mulai gelap, akhirnya kami diantar ke penginapan Toba Village Inn yang berada di desa Tuktuk Siadong. Penginapan yang asri dan bersih dengan halaman belakangnya Danau Toba.... indah! Dengan tarif Rp 500.000/nite yang sudah kami booking dari Jakarta.
Pulangnya lewat Jalan Tele saja. Mampir di Menara Tele. Pemandangannya dari sana cantik sekali. Kalau tidak percaya, lihat saja sendiri,”

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cantiknya Panorama Danau Toba dari Puncak Menara Tele ", https://travel.kompas.com/read/2012/07/04/11100618/Cantiknya.Panorama.Danau.Toba.dari.Puncak.Menara.Tele..
Penulis : Ni Luh Made Pertiwi F
Mampir di Menara Tele. Pemandangannya dari sana cantik sekali. Kalau tidak percaya, lihat saja sendiri,”

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cantiknya Panorama Danau Toba dari Puncak Menara Tele ", https://travel.kompas.com/read/2012/07/04/11100618/Cantiknya.Panorama.Danau.Toba.dari.Puncak.Menara.Tele..
Penulis : Ni Luh Made Pertiwi F
Mampir di Menara Tele. Pemandangannya dari sana cantik sekali. Kalau tidak percaya, lihat saja sendiri,”

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cantiknya Panorama Danau Toba dari Puncak Menara Tele ", https://travel.kompas.com/read/2012/07/04/11100618/Cantiknya.Panorama.Danau.Toba.dari.Puncak.Menara.Tele..
Penulis : Ni Luh Made Pertiwi F




Hukuman Pasung bagi rakyat melanggar hukum adat


Besok paginya kami melanjutkan petualangan setelah sarapan pagi menuju Ambarita adalah sebuah desa kuno di Pulau Samosir yang menjadi saksi berbagai peristiwa bersejarah. Di desa ini banyak terdapat deretan Jabu Bolon yaitu rumah tradisional Batak yang masih ditinggali oleh keturunan Sialagan. Terdapat kubur batu ukuran raksasa dan bagian paling populer di desa ini adalah meja dan kursi-kursi dari batu tersusun dengan posisi unik. Tentu saja kursi-kursi ini ada di sana bukan untuk Anda duduki. Tempat ini dulunya adalah bagian dari pengadilan di mana raja mengadili orang-orang yang melanggar adat dan para tetua menjatuhkan hukuman mati dengan memenggal kepala mereka di situ. Setelah mendengar cerita ini, yakin Anda masih mau duduk di situ? hehehe... untuk tiket masuk Rp7000/orang. Bila ingin tahu banyak soal budaya lokal, maka tempat ini tidak boleh Anda lewatkan.


Deretan Jabu Bolon di Perkampungan Sialagan




Saat melanjutkan perjalanan kami bertemu sekumpulan orang-orang muda dengan menggunakan pakaian khas Batak dengankain ulos dipundaknya. Ternyata ada acara festival Danau Toba 2018 yang dilaksanakan di pantai pasir putih Toba yaitu Pantai Parbaba, pantai ini terletak di Desa Hutabolon, Kecamatan Panguruan, Kabupaten Samosir. Kami mampir sebentar untuk melihat.






Yang unik dari pantai ini adalah airnya yang tidak asin. Ya, karena airnya berasal dari danau yang berair tawar. Banyak aktivitas watersports yang bisa Anda nikmati di sini, antara lain banana boat dan sepeda dayung. Dengan deretan gunung-gunung di sekelilingnya, serta arak-arakan awan yang menghias di atasnya, menjadikan suasana Danau Toba kian magis!





Selanjutnya perjalanan menuju Air Terjun Sipiso–Piso yang terletak di Desa Tongging, Kabupaten Karo. Letaknya yang tidak begitu jauh dari pemukiman penduduk Desa Tongging. Air terjun ini berada di perbukitan dengan ketinggian sekitar 800 mdpl dan dikelilingi oleh hutan pinus. Pengelolaan wisata alam air terjun ini dipegang oleh Pemda Kabupaten Karo. Dengan memiliki ketinggian sekitar 120 meter, Air Terjun Sipiso-piso merupakan salah satu air terjun tertinggi di Indonesia. Dengan adanya air terjun ini, Kabupaten Karo menjadi salah satu tempat wisata yang paling diminati oleh para wisatawan domestik dan mancanegara.





Dengan perpaduan hijaunya pepohonan pinus yang rimbun dan suara gemuruh air terjun dari kejauhan, membuat suasana hati dan pikiran terasa damai dan tenteram. Jangan lupa untuk membawa bekal makanan untuk dinikmati saat menikmati indahnya pemandangan di Air Terjun Sipiso-piso. Dalam bahasa Batak, Sipiso-piso berarti piso atau pisau. Ini digunakan untuk mewakili tinggi dan derasnya air terjun yang mengalirkan air lurus seperti bilah pisau tajam bila dilihat dari ketinggian. Rekor ketinggian air terjun ini juga mengundang wisatawan lokal dan mancanegara. Oh ya, tiket masuk yang harus dibayarkan di Air Terjun Sipiso–Piso adalah Rp5.000 per orang.




Untuk turun kebawah menuju ke kolam air terjun, tinggal menuruni anak tangga yang jumlahnya lebih dari 500-an bagi saya itu memerlukan waktu sekitar 30 menit – 45 menit. Bayanginnya aja saya malas! lebih baik memandang dari gardu pandang aja deh hehehe. Di spot ini disuguhi view spektakuler dan hamparan Tanah Karo serta Pulau Samosir yang posisinya ada di tengah Danau Toba. Pemandangannya yang indah, di mana Anda bisa melihat bukit-bukit hijau yang seolah tak berujung.




Dari Sipiso-piso kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Lumbini Berastagi yaitu melihat replika Pagoda Shwedagon seperti yang berada di Myanmar. Hari sudah sore tepat pukul 17.00 pm, untung saja kami masih diperbolehkan untuk masuk kedalam. Taman Lumbini terletak di Desa Tongkoh, Kecamatan Dolatrayat, Kabupaten Karo. Pagoda ini merupakan replika tertinggi kedua yang berada di luar Myanmar, dan merupakan pagoda tertinggi di Indonesia yang telah dibuka untuk umum sejak 2010. Dengan bercat emas dengan arsitektur yang begitu indah, relief-relief unik dan patung-patung Buddha menghiasi bangunan utama Pagoda ini. Jalan menuju kesana kita melewati kebun strawberi. Di sebelah kiri bangunan utama Pagoda, terdapat sebuah menara yang memiliki puncak berbentuk bekisar. Di bawahnya terdapat hiasan sulur berupa gelang-gelang emas sepanjang 1,5 meter. Di puncak Pagoda, terdapat puluhan lonceng sebagai penghias yang akan berdentang jika tertiup angin.





Untuk masuk ke dalam Pagoda, para pengunjung harus melepas alas kakinya. Seperti halnya berada di dalam tempat ibadah Buddha lainnya, kita akan langsung mencium harumnya bakaran hio dan di dalam Pagoda tepat di tengah-tengah ruangan, dapat melihat empat patung Buddha yang terbuat dari marmer. Untuk masuk ke kawasan Taman Alam Lumbini, tidak dipungut biaya untuk tiket masuk tetapi jika ingin memberikan sumbangan amal juga boleh seiklasnya yaa...





Bagi Anda yang tidak beragama Buddha, bisa berfoto di pagoda ini, sedangkan bagi yang beragama Buddha, tempat ini dapat menjadi tempat persembahyangan yang menenangkan dan menenteramkan. Jika berada di dalam Pagoda, tidak boleh makan atau minum selama berada di areal Pagoda merupakan aturan umum yang harus dipatuhi oleh para pengunjung.

Hari sudah mulai gelap, kami masih melanjutkan perjalanan yang panjang ke Medan, sekitar 4-5 jam. Tapi ternyata perjalanan dari Lumbini ke Medan kami terjebak macet parah, hingga akhirnya tiba di Penginapan kami tengah malam, batre hape sudah mati dan powerbank pun tidak bernyawa lagi - untung saja dari pihak hotel menelpon untuk mengetahui apakah kami masih mau menginap atau tidak? Sebelum tiba dipenginapan kami sempat mampir ke durian ucok, lapar bok! fiuuh... akhirnya malam pun berjalan dengan cepat.

Pagi hari kami bangun telat dan setelah sarapan pagi kami berkeliling kota Medan. Kami sempat mampir ke Pasar Rame. Pasar Rame ini merupakan pasar tradisional yang berada di sebelah Thamrin Plaza. Di tempat ini di jumpai berbagai macam barang yang didagangkan. Pasar ini termasuk lengkap. Saya mendapatkan kain-kain Ulos khas Batak dan Sarung khas Medan dengan corak kotak-kotak berwarna cerah, untuk harga tergantung jagonya anda menawar ya hehehe... Dari Medan kami kembali ke Jakarta melalui Bandara Kualanamu.


Sigale-gale dari Kampung Siallagan


Sejak dibukanya Bandara Silangit, kini kita tak perlu repot dengan melakukan perjalanan panjang lagi kalau mau berkunjung ke Danau Toba. Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air meluncurkan rute baru langsung dari Jakarta ke Bandara Silangit yang terletak di Siborong-borong. Dari Medan atau Jakarta untuk melihat Danau Toba, dapat naik pesawat langsung menuju Bandara Silangit di Siborong-borong, Kabupaten Tapanuli Utara. Dari Bandara dilanjutkan naik bus gratis yang disediakan oleh pihak Bandara  menuju Pangururan. Atau dari Bandara Silangit Anda tinggal menempuh perjalanan darat selama 1 jam untuk sampai ke Parapat dengan menyewa mobil dan dilanjutkan menyeberangi Danau Toba dengan kapal Fery untuk sampai ke Pulau Samosir. Untuk Transportasi kami menyewa mobil satu harian dengan supir dan bensin sebesar Rp 900.000,- Dari Desa Tuk-tuk hingga diantar ke Medan.



Penginapan Toba Village Inn, Tuk-Tuk






Sabtu, 24 Februari 2018

Bangka yang Indah




Yeay! Weekend panjang yang lalu, saya dan 'ganks' akhirnya mendapat kesempatan untuk jalan-jalan ke Pulau Bangka. Tidak hanya Belitung, Bangka juga punya banyak destinasi wisata yang tak kalah mempesona. Mudah kalau mau ke Bangka, flight-nya sudah banyak dalam sehari dari Jakarta. Dari yang murah seperti Lion air, Sriwijaya, Batavia maupun yang mahal seperti Garuda Airlines. Harga tiketnya berkisar 600rb-700rban, itu kalau lagi normal. Tapi kalau lagi Imlek, atau Chenbeng yang jatuh di bulan april (Tradisi sembayang kubur warga keturunan Tionghoa) atau Lebaran, harga tiketnya amazing deh, bisa berkisar 1 juta - 1,5 juta. 




Pulau Bangka merupakan salah satu pulau di kepulauan Bangka Belitung. Merupakan pulau besar yang dikelilingi oleh banyak pulau-pulau kecil, menyimpan banyak cerita sejarah dan peradaban yang besar sejak jaman dahulu. Letaknya yang strategis dengan kekayaan alam yang melimpah sejak pertama kali mampu direkam oleh catatan sejarah membuktikan bahwa Pulau Bangka adalah pulau yang bernilai historisitas tinggi.
 
Salah satunya penghasil timah terpenting di Indonesia. Di masa kejayaannya, Pulau Bangka menjadi pusat mata pencaharian ribuan orang yang mengeksplorasi endapan timah di sini. Bahkan, PT Timah yang merupakan perusahaan milik negara juga berkantor pusat di Pulau Bangka ini. Namun kini, aktivitas penambangan timah di pulau sudah semakin menurun. Tapi, kabarnya penambangan timah di laut masih memberikan hasil yang baik.






Kami tiba di Bandara Depati Amir, Pangkalpinang sekitar pukul 9 pagi. Sudah dijemput oleh mobil yang telah kami booking dari Jakarta. Tidak lama-lama di bandara kami langsung menuju tempat makan untuk sarapan pagi.

Bangka menjadi surganya pencinta kuliner. Saat mengunjungi Pulau Bangka, jangan lupa mencicipi makanan khasnya, yaitu empek-empek dan otak-otak ikan yang dibungkus daun pisang. Jika empek-empek di Palembang menggunakan cuka, di Bangka empek-empeknya memakai saus. Ada 3 jenis saus yang disediakan yaitu saus sambal tauco, saus sambal asam, dan saus sambal terasi dengan memakai jeruk dan enaknya harus langsung disantap di tempat dimana masih hangat-hangatnya. hmm... semuanya mak nyuss!

Selain itu ada uyen, empiang (pempek kulit), dan macam-macam, aku juga gak hafal semua jenisnya Nah yang enak itu rata-rata yang jualan orang Belinyu, seperti Otak-otak "Ase" di Jl. Kampung Bintang dan otak-otak "Samoichi" di dekat supermarket lama. Tempat berikutnya adalah Otak Otak Amui. Dengan variasi otak-otaknya lebih banyak. Sambil ngobrol santai dengan teman, hampir semua mengatakan “yang bikin enak sambelnya”. Makan otak-otak disini belum lengkap rasanya kalu belum ditemani dengan es kacang merah. Mampir juga ke warung kopi Tung Tau yang sudah melegenda.




Tak hanya itu, Bangka mampu menawarkan beragam aktivitas wisata. Mulai dari kecantikan pantai-pantainya yang masih alami, wisata budaya, sejarah yang kuat, hingga wisata ziarah. Rasa yang membuat diri semakin berhasrat untuk menjejakkan kaki ke sana.

Secara akses bisa melalui jalur darat dan udara. jalur udara melalui Bandara Depati Amir di Pangkalpinang. Penyeberangan langsung menuju Bangka bisa melalui Batam, Palembang, Jakarta, dan Belitung. Maskapai yang melayani rute Bangka yaitu: Garuda Sriwijaya Lion air. Waktu tempuh dari Jakarta ke Pangkalpinang sekitar 45 menit. Sementara untuk jalur laut, bisa dari Palembang, Pontianak, Tanjung Priok (Jakarta), Semarang, Surabaya, dan beberapa daerah lainnya.




Secara lokasi, Pulau Bangka diapit oleh tiga pulau besar di Indonesia yaitu Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Hal ini menjadikan Pulau Bangka mudah diakses terutama untuk masyarakat di Indonesia bagian barat. Pulau Bangka terdiri atas empat kabupaten dan satu kota, yaitu Kabupaten Bangka dengan ibukota Sungailiat, Kabupaten Bangka Barat dengan ibukota Muntok, Kabupaten Bangka Tengah dengan ibukota Koba, Kabupaten Bangka Tengah dengan ibukota Toboali, dan satu kota yaitu Pangkalpinang.

Kami sempat mengunjungi Vihara Puri Tri Agung. Disebut Tri Agung karena ia menjadi rumah ibadah tiga agama dan aliran kepercayaan, yaitu Budha, Kong Hu Chu, dan Lao Tse.  Puri Tri Agung terletak di atas sebuah bukit. Dari tempat ibadah ini kita dapat melihat Pantai Tikus dari kejauhan. Kami hanya numpang foto di halaman kuil saja. Bangunan yang menarik dengan pemandangan pantai dikejauhan menambah keindahan dan damai vihara ini. Letaknya yang sekitar 1 jam dari Pangkal Pinang.



Vihara Puri Tri Agung, Pulau Bangka


Langit-langit pagoda dipenuhi oleh gambar-gambar yang menunjukkan kisah-kisah dari masing-masing kepercayaan. Ukiran-ukiran di kayu penyangga langit-langit juga menggambarkan legenda di ketiga kepercayaan ini secara silih berganti. Suasananya syahdu dan memang mendukung untuk berdoa. Dengan ornamen-ornamen Cina berwarna merah seperti lampion dan tulisan Cina. Pengelola Puri Tri Agung umumnya adalah warga Keturunan Tionghoa yang memang cukup banyak mendiami Pulau Bangka sejak zaman dulu. Pengunjung boleh memasuki Puri ini tetapi harus melepas alas kaki.


Panorama Danau Kaolin, Bangka



Kami juga sempat mengunjungi Danau Kaolin yang merupakan danau bekas galian tambang kaolin ternyata tidak hanya ada di Pulau Belitung melainkan juga ada di Pulau Bangka tepatnya di Desa Nibung, Bangka Tengah. Danau Kaolin ini memiliki dua warna air danau yang terpisah yaitu warna biru dan warna hijau. Para pengunjung bebas keluar masuk area ini secara gratis karena tidak adanya loket pembayaran dan sepertinya belum menjadi tempat wisata yang dikomersialkan. Para pengunjung juga sebaiknya hati-hati saat sedang berjalan atau mengambil foto karena tanah kaolin ini rawan longsor.

Kemudian kami mampir di Pusat Oleh-oleh BTS (Bangka Tradisional Snack) di Jl. A.Yani. Lumayan, bisa beli keripik-keripik dan kopi khas Bangka. Setelah puas belanja, kami kemudian makan siang di Rumah Makan Seafood Mr. Asui.

Kemudian kami mengunjungi Desa Gedong. Perjalanan menuju Desa Gedong kami tempuh selama 2 jam dari Pangkal Pinang. Kendaraan hanya diijinkan untuk masuk sampai dengan Gapura. Selanjutnya kami harus berjalan kaki untuk menyusuri tempat ini. Desa Gedong merupakan kampung Cina tertua di Pulau Bangka yang saat ini ditetapkan sebagai Desa Wisata. Letaknya berada di wilayah Lumut, kecamatan Belinyu. Warga di Desa Gedong adalah generasi penambang terakhir di Pulau Bangka. Kehidupan mereka rata-rata berdagang dan pembuat makanan khas Bangka seperti kerupuk, kemplang dan getas.






By the way, kalau tanya gimana transportasi umum disana? Transportasi umum disana kurang, mending sewa mobil kalau mau mengunjungi satu-satu pantainya.  Tapi kalau mau backpacker-an ngeteng disana sih gak akan jalan. Belum ada transportasi umum yang merambah daerah-daerah pelosok, dan memang pantai-pantai tersebut jauh dari pemukiman yang ramai. Sebenernya Bangka itu luas, yang biasanya di ulas baru wisata di 2 kota: Pangkalpinang dan Sungailiat, kota lainnya masih jarang di jamah para traveler.

Untuk sinyal telepon genggam mudah didapatkan di hampir seluruh kabupaten yang ada di Pulau Bangka. Semua operator telepon genggam mendapatkan sinyal di pulau ini.









Musim Semi Rasa Winter di Dolomites

Dari keindahan alam, laut mediterania hingga bangunan-bangunan kuno peninggalan sejarah, Italia memang merupakan salah satu negara te...